Tampilkan postingan dengan label Pramuka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pramuka. Tampilkan semua postingan

Makna Lambang Pramuka Jawa Timur



Kiasan dan Makna Bentuk Gambar Lambang 

1. Perisai 
Perisai simetris sederhana bersegi lima, merupakan symbol pancasila sebagai penganman guna melindungi dan menanggulangi setiap bahaya, ancaman,serangan dan ancaman. Melambangkan bahwa pramuka jawa timur dengan berbekal jiwa pancasila siap menghadapi segala macam bahaya, ancaman, serangan dan tantangan hidup.

2. Tulisan Jawa Timur
Tulisan Jawa Timur warna mera pada perisai bagian atas di atas dasar warn putih. Melambangkan sikap pemberani,pantang menyerah,pantang putus asa,kesatria,berani karena kebenaran. Menggambarkan kebulatan tekad untuk menempuh rintangan/halangan serta perwujudan watak pemberani dari pramuka Jawa Timur.

3. Tugu Pahlawan
Tuguh pahlawan dengan sepuluh bagian bangunan berdiri tegalk ditengah depan gapura. Melambangkan keteguhan semangat pahlaewan yang patriotik selalu membara di dada setiap pramuka Jawa Timur. Sekaligus melmbangkan dasa dharma Pramuka sebagai ketentuan moral Pramuka.

4. Gapura 
Gapura bentar berisui dua, dengan tiga sap praofil( kaki,badan dan kepala).
Melambangkan Candi Bentar yang merupakan kiasan asas kejayaan daerah jawa timur sejak dahulu kala, sewaktu kejayaan kerjaan Airlangga dan kerajaan Majapahit sampai sekarang. Menggambarkan menggambarkan kejuangan Pramuka Jawa Timur. Dua sisi gapura ( sepasang) menggambarkan pramuka putera dan puteri juga dwi satya dan dwi dharma. Sedangkan tiga sap profil menggambarkan Tri Satya. Dwi satya dan tri satya merupakan janji pramuka. Sedangkan dwi Dharma merupakan ketentuan moral Pancasila.

5. Gunung.
Gunung berdiri koko melambangkan bahwa wilayah jawa timur tersapat banyak gunung menjulang tinggi, termasuk yangtertinggi gunung semeru. Menggambarkan cita – cita tinggi Pramuka Jawa Timur. Gunung sekaligus menggambarkan tanah yang ada diatas gelombang samudra dan aliran sungai. Melambangkan tanah di wilaya Jawa Timur sebagian besar subur dan terkandung didalamnya kekayaan alam yang tidak ternilai. Hal ini menggambarkan bahwa setiap pramuka jawa timur mencintai lingkungan hidup dan tanah airnya. Sekaligus menggambarkan bahwa pramuka Jawa Timur memiliki potensi tinggi, apabila memperoleh pembinaan yang tepat akan menjadi sumber daya yang berkualitas.

6. gelombang samudra dan Alun Sungai
Gelombang ombak samudra di bawah dan tengah, melambangka bahwa wilayah jawa timur sebagian besar di kelilingi gelombang samudra. Alun sungai kanan dan kiri di bawah tanah /gunung di kri dan kanan tunas kelapa, melambangkan sungai – sungai yang ada di Jawa Timur, di antaranya dua sungai besar yaitu sungai Brantas dan Solo.
Samudra dan sungai keduanya sangat bermanfaat bagi masyarakat. Hal ini melambangkan pRamuka jawa timur memiliki wawasan yang luas dan semangat pengabdian yang tinggi serta bermanfaat bagi kemajuan masyarakat.

7. Tunas Kelapa 
Satu tunas kelapa berdiri tegak di tengah perisai. Melambangkan tekad tunggal pramuka yang merupakan potensi generasi penerus perjuangan bangsa, yang berguna dalam situasi apapun dalam pembangunan juga dalam mencapai tujuan nasional.

Makna Warna Lambang
  • Kuning : Berarti Kebebasan, Kegairahan, Kegembiraan, kedinamisan, menggambarkan pula sifat trengginas, juga melambangkan kemakmuran.
  • Biru : berarti kesetiaan, keikhlasan, ketenangan, dan kesukarelaan dalam mengabdi kepada ibu pertiwi.
  • Hitam : berarti kekuatan, kewibawaan, menggambarkan pula sifat tatag, tangguh dan tanggon.
  • Hijau : berarti kesuburan,kesegaran,ketentraman,kemakmuran,kedamaian,menggambarkan pula sifat kematangan jiwa dan kesabaran.
  • Merah : berarti berani, kebulatan tekad untuk menempuh rintangan dan alangan.
  • Putih : berarti kesucian, menggambarkan pula suci dalam pikiran,perkataan dan perbuatan. 

Safari Pangkalan Ambalan Gajah Mada




Safari Pangkalan Ambalan Gajah Mada SMKN 1 KEDIRI adalah kegiatan rutin yang selalu dilakukan setiap tahunnya , kegiatan ini selalu dilaksanakan setiap hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang memperingati puasa dan hari raya idul fitri . 


Safari Pangkalan  bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi antar pangkalan utamanya di Kota Kediri . Safari pangkalan ini , diikuti oleh seluruh anggota Ambalan Gajah Mada SMKN 1 Kediri , Anggota Ambalan Gajah Mada bersama - sama mendatangi pangkalan - pangkalan di Kota Kediri , seperti pada tahun ini ambalan Gajah Mada telah mengunjungi pangkalan SMKN 2 , SMKN 3 , SMK PGRI 2 , SMAN 7 , MAN 3 guna mempererat tali silaturahmi .


Dalam kegiatan ini sangat menarik sebab kita bisa berinteraksi dengan anggota pangkalan lain, sehingga bisa menambah wawasan kita terhadap dunia kepramukaan khususnya .
Harapan kami , semoga semua pangkalan di Kota kediri juga ikut melakukan hal yang serupa , sehingga lebih menumbuhkan semangat kekeluargaan diantara anggota pramuka .

The development of Scouts in Indonesia (from Jadul to Modern)

The period of the Dutch East Indies
The fact history shows that Indonesian youth have a "stake" in the great struggle for Indonesian independence movement as well as existing and the development of Indonesia's national scouting education. In the educational development of scouting it seems the drive and passion to unite, but there are symptoms of organizational Bhinneka.
Scouting organizations in Indonesia was started by a branch of "Nederlandse Organisatie Padvinders" (NPO) in 1912, which at the time of the outbreak of World War I has its own large Kwartir and later changed its name to "Nederlands-Indische Vereeniging Padvinders" (NIPV) in 1916.
Scouting organization initiated by the Indonesian nation is Javaanse Padvinders Organisatie; stand on the initiative of SP Mangkunegara VII in 1916.
The fact that Scouting is interchange with the national movement, as mentioned above can be considered on a "Padvinder Muhammadiyah" which in 1920 changed its name to "Hisbul Wathon" (HW); "Nationale Padvinderij" established by Budi Utomo; Sarekat Islam founded the "Sarekat Afdeling Padvinderij Islam "which later changed to" Islamic Sarekat Afdeling Pandu "and better known as SIAP, Nationale Islamietishe Padvinderij (NATIPIJ) was established by Bond Islamieten Jong (JIB) and Indonesisch Padvinders Nationale Organisatie (INPO) was established by the Youth of Indonesia.
Scouting organizations united desire for Indonesia at that time appeared to start with the formation of PAPI that is "Brotherhood Between Pandu Indonesia" is a federation of Pandu Nationality, INPO, READY, NATIPIJ and PPS on May 23, 1928.
This federation can not last long, because the intention of fusion, resulting in 1930 stood Scout Nation Indonesia (KBI), which was pioneered by the leaders of Jong Java Padvinders / Pandu Nationality (JJP / PK), INPO and PPS (JJP-Jong Java Padvinderij); PK-Pandu Nationality).
PAPI later developed into the Central Indonesian Scout Brotherhood (BPPKI) in April 1938.
Between the years 1928-1935 Indonesian bermuncullah good scouting movement that breathes main nationality or religion breathing. scouting that breathing can be noted Pandu nationality Indonesia (PI), Padvinders Organisatie Pasundan (POP), Pandu Sultanate (PK), Ray Pandu We (SPK) and Scout Rakyat Indonesia (KRI). While the breathing religion Ansor Pandu, Al Wathoni, Hizbul Wathon, Scout Islam Indonesia (Kii), Islamitische Padvinders Organisatie (IPO), Tri Darma (Christian), Catholic principle Scout Indonesia (LEG), Scout AD Indonesia (KMI).
In an effort to build unity and unity, the BPS Indonesia BPPKI Scout Brotherhood plan "All Indonesian Jamboree." This plan had some good changes in execution time and name of activity, which then agreed to be replaced with "Camp Scout Indonesia Oemoem" abbreviated PERKINO and executed on December 19 to 23 July 1941 in Yogyakarta.
Dai Nippon future Army
"Dai Nippon"! That name used to refer to Japan at that time. During World War II, Japanese troops entered the attack and the Dutch left Indonesia. Party organizations and the people of Indonesia, including the scouting movement, banned from standing. But efforts to organize PERKINO II remain to be done. Not only that, the spirit of scouting still burning in the chest the anggotanya.Karena Scout is a high-value organizations that menjungjung persatuan.Oleh that's why Japanese people do not allow scouts still born in the earth's motherland.
Period of the Republic of Indonesia
A month after the proclamation of independence of the Republic of Indonesia, some scouting leaders gathered in Yogyakarta and agreed to form a unitary Scout Committee for Indonesia as a working committee, showing the formation of a scouting organization container for the entire Indonesian nation and immediately held a Unity Congress Scout Indonesia.
Congress intended, held on 27-29 December 1945 in Surakarta with the formation of Pandu Rakyat Indonesia. Society is supported by the entire leadership and character and strengthened with "Promise Institute of Way", and the government of Indonesia recognizes as the only scouting organization that is determined by the decision of the Minister of Education and Culture No.93/Bag. A, dated February 1, 1947.
Difficult years faced by Pandu Rakyat Indonesia since the Dutch invasion. Even in commemoration of independence held August 17, 1948 when a bonfire in the yard of the East Pegangsaan 56, Jakarta, Netherlands weapons to threaten and force Soeprapto face God, fall as Pandu, as a patriot who proved his love of country, homeland and nation. In areas occupied by the Dutch, the People are prohibited from standing Pandu,. This situation encourages the establishment of other associations such as the Scout Putera Indonesia (KPI), Pandu Puteri Indonesia (PPI), Scout Indonesia Muda (KIM).
The period of armed struggle to defend our beloved country is the devotion also for members of the scouting movement in Indonesia, then ended the period of armed struggle to enforce and keep the independence that, at this time that Pandu Rakyat Indonesia, held a second congress in Yogyakarta on 20-22 January 1950.
Congress, among others, decided to accept the new conception, which gives the opportunity for special classes for former menghidupakan back their respective organizations and opened an opportunity that Pandu Rakyat Indonesia is no longer the only scouting organization in Indonesia with the decision of the Minister of PP and K number 2344 / Kab. dated 6 September 1951 dicabutlah government's recognition that the Scout Rakyat Indonesia is the only container scouting in Indonesia, so the decision 93/Bag number. A dated February 1, 1947 was over already.
Maybe a bit strange too, if direnungi, for ten days after the decision of the Minister No. 2334/Kab. it out, then the representatives of organizations engaged in acts of scouting Why did konfersensi in Jakarta. At this moment, exactly on 16 September 1951 decided upon the establishment of Scout Association of Indonesia (IPINDO) as a federation.
In 1953 Ipindo succeeded in becoming a member of the worldwide scouting
Ipindo scouting organization is a federation for the son, while for daughters, there are two federal organizations that PKPI (Scout Association of Puteri Indonesia) and POPPINDO (Unity Organization of Pandu Puteri Indonesia). Both these federations together ever welcoming haven Lady Baden-Powell to Indonesia, the trip to Australia.
In the Proclamation of Independence Day is the 10th National Jamboree held Ipindo, held at Ragunan, Sunday Market on December 10 to 20 August 1955, Jakarta.
Ipindo as container activities as scouting feel the need to hold seminars for Facebook to picture the effort to ensure the purity and preservation of life scouting. This seminar was held at the Tugu, Bogor in January 1957.
Seminar This monument was to produce a formula that is expected to be a reference for every scouting movement in Indonesia. It is expected to pramukaan that there can be united. A year later in the month of Novem-ber 1958, the Government of Indonesia, in this case the Ministry of PP and K held a seminar in Ciloto, Bogor, West Java, the topic of "Penasionalan Scout."
If Jamboree for son held in Ragunan-Pasar Minggu Jakarta, the camp held a large PKPI daughter called Semanggi Village located at Ciputat. Semanggi Village was implemented in 1959. In this year also Ipindo send kontingennya to the World Jamboree in MT. Makiling Philippines.
Now, years later is a time-period before the birth of the Scout Movement.
The birth of the Scout Movement
Background of the Birth of the Scout Movement
Scout Movement was born in 1961, so if you would listen to the background of the birth of the Scout Movement, one needs to assess the situation, events and events around the year 1960.
From the expressions that have been presented in front we see that the number of clubs scouting in Indonesia at that time very much. The amount is not sepandan with the total number of members of the assembly that.
Regulations arising during this pioneering MPRS Decree No. II/MPRS/1960, 3 December 1960 on national development plans Planning Universe. In this ordinance can be found in Article 330. C. which states that basic education in the field scouting is the Pancasila. Beyond the control of scouting (Article 741) and education scouting so intensified and approve the Government plans to establish a Boy Scout (Article 349 Paragraph 30). Then scouting so that freed from the remnants of Lord Baden Powellisme (Appendix C Section 8).
The decision gives the government the obligation to implement them. That's why Pesiden / Mandatory Assembly on March 9, 1961 to collect the figures and leaders of scouting movement Indonesia, held at the State Palace. On Thursday night was the President revealed that the existing scouting must be renewed, methods and educational activities should be replaced, the entire scouting organizations that have merged into one called the Boy Scouts. The President also appointed committee consisting of Sri Sultan Hamengkubuwono IX, the Minister of P and K Prof. Prijono, Minister of Agriculture Dr.A. Aziz Saleh and the Minister of Transmigration, Cooperatives and Rural Community Development, Achmadi. The committee would need something endorsement. And then was published Presidential Decree No.112 of 1961 dated April 5, 1961, regarding the Committee Executive Assistant Scout formation with the membership as it is called by the President on March 9, 1961.
There is a difference between the term or task committee the President's speech by a Presidential Decree that.
Still in April of that as well, come out, Presidential Decree No. 121 of 1961 dated April 11, 1961 on the Establishment Committee of the Scout Movement. Members of this committee consisting of Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Prof. Prijono, Dr. A. Aziz Saleh, Achmadi and Muljadi Djojo Martono (Minister of Social Affairs).
The committee is then process the Scout Association, as an Annex to Presidential Decree No. 238 of 1961, dated 20 May 1961 concerning the Scout Movement.
The birth of the Scout Movement
Scout Movement was marked by a series of interrelated events, namely:
1. Speech of President / Mandatory Assembly before the leaders and the leaders who represent the scouting organization listed in Indonesia on March 9, 1961 at the State Palace. This event came to be called as DAY SHOOTS BOY SCOUT MOVEMENT
2. Issuance of Presidential Decree No. 238 of 1961, dated May 20, 1961, concerning the Scout Movement which set the Scout Movement as the only organization assigned scouting scouting education for children and youth in Indonesia, and ratify the Articles of Association scouts who offered guidance, instructions and guidance for the managers of the Scout Movement in carrying out their duties. On 20 May is: National Awakening Day, but for the Scout Movement has a special meaning and is a milestone for environmental education in the third. This event came to be called as DAY THE BEGINNING OF WORK.
3. Statement representatives scouting organization in Indonesia that with sincerity merge into the Scout organization, conducted at the Senayan Sports Palace on July 30, 1961. The incident was later referred to as a pledge DAY SCOUT MOVEMENT.
4. Inaugural Mapinas, Kwarnas and Kwarnari at the State Palace, followed by a procession Scouts to be introduced to the public, which is preceded by Panji-Panji conferment of the Scout Movement, and all of which occurred on August 14, 1961. This event came to be called as DAY BOY SCOUT.
Introduced Scout Movement
Speech the President on March 9, 1961 also outline for the Proclamation of Independence memorial scouts have been there and known by the public. Therefore RI Presidential Decree No.238 of 1961 there should be supporting the board and its members.
According to the Articles of Association of the Scout Movement, the leader of this association is held by the National Leadership Council (MAPINAS) in which there are national scouts and National Kwartir Daily.
Central Executive Board is symbolically sacred figures compiled by taking a 17-8-'45, which is composed of Mapinas up to 45 people of whom sat in Kwarnas 17 people and in Kwarnasri 8 people.
However, in its realization as such in the Republic of Indonesia Presidential Decree No.447 of 1961, dated August 14, 1961 Mapinas number of members to 70 people with the details of the 70 members of the 17 people of whom as members Kwarnas and 8 people among members of this Kwarnas Kwarnari membership.
Mapinas chaired by Dr. Ir. Sukarno, President with Vice Chairman of I, lane II, IX and Vice Chairman Brigadier General Dr.A. Aziz Saleh.
Meanwhile in Kwarnas, lane IX serves as Chairman and Brigadier General Dr.A. Aziz Saleh as Vice Chairman and Chief Kwarnari.
Scout Movement was officially intro
The development of Scouts in Indonesia (from Jadul to Modern)
The period of the Dutch East Indies
The fact history shows that Indonesian youth have a "stake" in the great struggle for Indonesian independence movement as well as existing and the development of Indonesia's national scouting education. In the educational development of scouting it seems the drive and passion to unite, but there are symptoms of organizational Bhinneka.
Scouting organizations in Indonesia was started by a branch of "Nederlandse Organisatie Padvinders" (NPO) in 1912, which at the time of the outbreak of World War I has its own large Kwartir and later changed its name to "Nederlands-Indische Vereeniging Padvinders" (NIPV) in 1916.
Scouting organization initiated by the Indonesian nation is Javaanse Padvinders Organisatie; stand on the initiative of SP Mangkunegara VII in 1916.
The fact that Scouting is interchange with the national movement, as mentioned above can be considered on a "Padvinder Muhammadiyah" which in 1920 changed its name to "Hisbul Wathon" (HW); "Nationale Padvinderij" established by Budi Utomo; Sarekat Islam founded the "Sarekat Afdeling Padvinderij Islam "which later changed to" Islamic Sarekat Afdeling Pandu "and better known as SIAP, Nationale Islamietishe Padvinderij (NATIPIJ) was established by Bond Islamieten Jong (JIB) and Indonesisch Padvinders Nationale Organisatie (INPO) was established by the Youth of Indonesia.
Scouting organizations united desire for Indonesia at that time appeared to start with the formation of PAPI that is "Brotherhood Between Pandu Indonesia" is a federation of Pandu Nationality, INPO, READY, NATIPIJ and PPS on May 23, 1928.
This federation can not last long, because the intention of fusion, resulting in 1930 stood Scout Nation Indonesia (KBI), which was pioneered by the leaders of Jong Java Padvinders / Pandu Nationality (JJP / PK), INPO and PPS (JJP-Jong Java Padvinderij); PK-Pandu Nationality).
PAPI later developed into the Central Indonesian Scout Brotherhood (BPPKI) in April 1938.
Between the years 1928-1935 Indonesian bermuncullah good scouting movement that breathes main nationality or religion breathing. scouting that breathing can be noted Pandu nationality Indonesia (PI), Padvinders Organisatie Pasundan (POP), Pandu Sultanate (PK), Ray Pandu We (SPK) and Scout Rakyat Indonesia (KRI). While the breathing religion Ansor Pandu, Al Wathoni, Hizbul Wathon, Scout Islam Indonesia (Kii), Islamitische Padvinders Organisatie (IPO), Tri Darma (Christian), Catholic principle Scout Indonesia (LEG), Scout AD Indonesia (KMI).
In an effort to build unity and unity, the BPS Indonesia BPPKI Scout Brotherhood plan "All Indonesian Jamboree." This plan had some good changes in execution time and name of activity, which then agreed to be replaced with "Camp Scout Indonesia Oemoem" abbreviated PERKINO and executed on December 19 to 23 July 1941 in Yogyakarta.
Dai Nippon future Army
"Dai Nippon"! That name used to refer to Japan at that time. During World War II, Japanese troops entered the attack and the Dutch left Indonesia. Party organizations and the people of Indonesia, including the scouting movement, banned from standing. But efforts to organize PERKINO II remain to be done. Not only that, the spirit of scouting still burning in the chest the anggotanya.Karena Scout is a high-value organizations that menjungjung persatuan.Oleh that's why Japanese people do not allow scouts still born in the earth's motherland.
Period of the Republic of Indonesia
A month after the proclamation of independence of the Republic of Indonesia, some scouting leaders gathered in Yogyakarta and agreed to form a unitary Scout Committee for Indonesia as a working committee, showing the formation of a scouting organization container for the entire Indonesian nation and immediately held a Unity Congress Scout Indonesia.
Congress intended, held on 27-29 December 1945 in Surakarta with the formation of Pandu Rakyat Indonesia. Society is supported by the entire leadership and character and strengthened with "Promise Institute of Way", and the government of Indonesia recognizes as the only scouting organization that is determined by the decision of the Minister of Education and Culture No.93/Bag. A, dated February 1, 1947.
Difficult years faced by Pandu Rakyat Indonesia since the Dutch invasion. Even in commemoration of independence held August 17, 1948 when a bonfire in the yard of the East Pegangsaan 56, Jakarta, Netherlands weapons to threaten and force Soeprapto face God, fall as Pandu, as a patriot who proved his love of country, homeland and nation. In areas occupied by the Dutch, the People are prohibited from standing Pandu,. This situation encourages the establishment of other associations such as the Scout Putera Indonesia (KPI), Pandu Puteri Indonesia (PPI), Scout Indonesia Muda (KIM).
The period of armed struggle to defend our beloved country is the devotion also for members of the scouting movement in Indonesia, then ended the period of armed struggle to enforce and keep the independence that, at this time that Pandu Rakyat Indonesia, held a second congress in Yogyakarta on 20-22 January 1950.
Congress, among others, decided to accept the new conception, which gives the opportunity for special classes for former menghidupakan back their respective organizations and opened an opportunity that Pandu Rakyat Indonesia is no longer the only scouting organization in Indonesia with the decision of the Minister of PP and K number 2344 / Kab. dated 6 September 1951 dicabutlah government's recognition that the Scout Rakyat Indonesia is the only container scouting in Indonesia, so the decision 93/Bag number. A dated February 1, 1947 was over already.
Maybe a bit strange too, if direnungi, for ten days after the decision of the Minister No. 2334/Kab. it out, then the representatives of organizations engaged in acts of scouting Why did konfersensi in Jakarta. At this moment, exactly on 16 September 1951 decided upon the establishment of Scout Association of Indonesia (IPINDO) as a federation.
In 1953 Ipindo succeeded in becoming a member of the worldwide scouting
Ipindo scouting organization is a federation for the son, while for daughters, there are two federal organizations that PKPI (Scout Association of Puteri Indonesia) and POPPINDO (Unity Organization of Pandu Puteri Indonesia). Both these federations together ever welcoming haven Lady Baden-Powell to Indonesia, the trip to Australia.
In the Proclamation of Independence Day is the 10th National Jamboree held Ipindo, held at Ragunan, Sunday Market on December 10 to 20 August 1955, Jakarta.
Ipindo as container activities as scouting feel the need to hold seminars for Facebook to picture the effort to ensure the purity and preservation of life scouting. This seminar was held at the Tugu, Bogor in January 1957.
Seminar This monument was to produce a formula that is expected to be a reference for every scouting movement in Indonesia. It is expected to pramukaan that there can be united. A year later in the month of Novem-ber 1958, the Government of Indonesia, in this case the Ministry of PP and K held a seminar in Ciloto, Bogor, West Java, the topic of "Penasionalan Scout."
If Jamboree for son held in Ragunan-Pasar Minggu Jakarta, the camp held a large PKPI daughter called Semanggi Village located at Ciputat. Semanggi Village was implemented in 1959. In this year also Ipindo send kontingennya to the World Jamboree in MT. Makiling Philippines.
Now, years later is a time-period before the birth of the Scout Movement.
The birth of the Scout Movement
Background of the Birth of the Scout Movement
Scout Movement was born in 1961, so if you would listen to the background of the birth of the Scout Movement, one needs to assess the situation, events and events around the year 1960.
From the expressions that have been presented in front we see that the number of clubs scouting in Indonesia at that time very much. The amount is not sepandan with the total number of members of the assembly that.
Regulations arising during this pioneering MPRS Decree No. II/MPRS/1960, 3 December 1960 on national development plans Planning Universe. In this ordinance can be found in Article 330. C. which states that basic education in the field scouting is the Pancasila. Beyond the control of scouting (Article 741) and education scouting so intensified and approve the Government plans to establish a Boy Scout (Article 349 Paragraph 30). Then scouting so that freed from the remnants of Lord Baden Powellisme (Appendix C Section 8).
The decision gives the government the obligation to implement them. That's why Pesiden / Mandatory Assembly on March 9, 1961 to collect the figures and leaders of scouting movement Indonesia, held at the State Palace. On Thursday night was the President revealed that the existing scouting must be renewed, methods and educational activities should be replaced, the entire scouting organizations that have merged into one called the Boy Scouts. The President also appointed committee consisting of Sri Sultan Hamengkubuwono IX, the Minister of P and K Prof. Prijono, Minister of Agriculture Dr.A. Aziz Saleh and the Minister of Transmigration, Cooperatives and Rural Community Development, Achmadi. The committee would need something endorsement. And then was published Presidential Decree No.112 of 1961 dated April 5, 1961, regarding the Committee Executive Assistant Scout formation with the membership as it is called by the President on March 9, 1961.
There is a difference between the term or task committee the President's speech by a Presidential Decree that.
Still in April of that as well, come out, Presidential Decree No. 121 of 1961 dated April 11, 1961 on the Establishment Committee of the Scout Movement. Members of this committee consisting of Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Prof. Prijono, Dr. A. Aziz Saleh, Achmadi and Muljadi Djojo Martono (Minister of Social Affairs).
The committee is then process the Scout Association, as an Annex to Presidential Decree No. 238 of 1961, dated 20 May 1961 concerning the Scout Movement.
The birth of the Scout Movement
Scout Movement was marked by a series of interrelated events, namely:
1. Speech of President / Mandatory Assembly before the leaders and the leaders who represent the scouting organization listed in Indonesia on March 9, 1961 at the State Palace. This event came to be called as DAY SHOOTS BOY SCOUT MOVEMENT
2. Issuance of Presidential Decree No. 238 of 1961, dated May 20, 1961, concerning the Scout Movement which set the Scout Movement as the only organization assigned scouting scouting education for children and youth in Indonesia, and ratify the Articles of Association scouts who offered guidance, instructions and guidance for the managers of the Scout Movement in carrying out their duties. On 20 May is: National Awakening Day, but for the Scout Movement has a special meaning and is a milestone for environmental education in the third. This event came to be called as DAY THE BEGINNING OF WORK.
3. Statement representatives scouting organization in Indonesia that with sincerity merge into the Scout organization, conducted at the Senayan Sports Palace on July 30, 1961. The incident was later referred to as a pledge DAY SCOUT MOVEMENT.
4. Inaugural Mapinas, Kwarnas and Kwarnari at the State Palace, followed by a procession Scouts to be introduced to the public, which is preceded by Panji-Panji conferment of the Scout Movement, and all of which occurred on August 14, 1961. This event came to be called as DAY BOY SCOUT.
Introduced Scout Movement
Speech the President on March 9, 1961 also outline for the Proclamation of Independence memorial scouts have been there and known by the public. Therefore RI Presidential Decree No.238 of 1961 there should be supporting the board and its members.
According to the Articles of Association of the Scout Movement, the leader of this association is held by the National Leadership Council (MAPINAS) in which there are national scouts and National Kwartir Daily.
Central Executive Board is symbolically sacred figures compiled by taking a 17-8-'45, which is composed of Mapinas up to 45 people of whom sat in Kwarnas 17 people and in Kwarnasri 8 people.
However, in its realization as such in the Republic of Indonesia Presidential Decree No.447 of 1961, dated August 14, 1961 Mapinas number of members to 70 people with the details of the 70 members of the 17 people of whom as members Kwarnas and 8 people among members of this Kwarnas Kwarnari membership.
Mapinas chaired by Dr. Ir. Sukarno, President with Vice Chairman of I, lane II, IX and Vice Chairman Brigadier General Dr.A. Aziz Saleh.
Meanwhile in Kwarnas, lane IX serves as Chairman and Brigadier General Dr.A. Aziz Saleh as Vice Chairman and Chief Kwarnari.
Scout Movement was officially introduced to all the people of Indonesia on August 14, 1961 not only in the capital Jakarta, but also at important places in Indonesia. In Jakarta, some 10,000 members of the Scout Movement entered the Big Apple is followed by the march of development and procession in front of President and around Jakarta.
Before the parade / procession, the President inaugurated a member Mapinas, Kwarnas and Kwarnari, in state court, and convey grace and honor in recognition of National Scout Movement Panji Indonesia (Decree No.448 of 1961) which diterimakan to the Chairman of the National Kwartir, Sri Sultan Hamengku IX Lane shortly before the parade / procession begins.
Events introduction date of August 14, 1961 is then performed as DAY BOY SCOUT which commemorated annually by all levels and members of the Scout Movement

duced to all the people of Indonesia on August 14, 1961 not only in the capital Jakarta, but also at important places in Indonesia. In Jakarta, some 10,000 members of the Scout Movement entered the Big Apple is followed by the march of development and procession in front of President and around Jakarta.
Before the parade / procession, the President inaugurated a member Mapinas, Kwarnas and Kwarnari, in state court, and convey grace and honor in recognition of National Scout Movement Panji Indonesia (Decree No.448 of 1961) which diterimakan to the Chairman of the National Kwartir, Sri Sultan Hamengku IX Lane shortly before the parade / procession begins.
Events introduction date of August 14, 1961 is then performed as DAY BOY SCOUT which commemorated annually by all levels and members of the Scout Movement


Kemah Bhakti Taruna Teknik

Kemah Bhakti Taruna Teknik (KBTT) XXIII akan dimulai tanggal 26 Des 2010......KBTT diadakan dengan tujuan agar seluruh organisasi di SMK N 1 Kediri bisa membaktikan diri kepada masyarakat,,



PETUNJUK PENYELENGGARAAN PAKAIAN SERAGAM PRAMUKA

KEPUTUSAN
KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA
NOMOR 088 TAHUN 1981
TENTANG PETUNJUK PENYELENGGARAAN PAKAIAN SERAGAM PRAMUKA


Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka,

Menimbang    : 1. bahwa keputusan Musyawarah Nasional Gerakan Pramuka Tahun 1974 di Manado, Sulawesi Utara, menyatakan agar Petunjuk Penyelenggaraan Pakaian SeragamPramuka supaya disempurnakan, disesuaikan dengan tujuan Gerakan Pramuka dan selera anak-anak dan pemuda-pemuda, serta sesuai dengan perkembangan masyarakat ;
2. bahwa untuk menertibkan pelaksanaan penggunaan pakaian seragam Pramuka perlu disempurnakan petunjuk Penyelenggaraan Pakaian Seragam Pramuka yang mencakup pakaian seragam putri maupun putra ;
3. bahwa untuk melaksanakan maksud tersebut diatas, perlu menerbitkan Petunjuk Penyelenggaraan baru, sebagai pengganti dan penyempurnaan Petunjuk Penyelenggaraan Pakaian Seragam Pramuka tersebut pada lampiran Keputusan Kwartir Nasional GerakanPramuka Nomor  104/KN/74 Tahun 1974.

Mengingat     : 1. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 238 Tahun 1961 tentang Gerakan Pramuka ;
2. Keputusan Prasiden Republik Indonesia nomor 12 Tahun 1971 tentang Anggaran Dasar Gerakan Pramuka ;
3. Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Nomor 045/KN/74 Tahun 1974 tentang Anggaran Rumah Tangga Gerakan Pramuka ;
4. Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Nasional Nomor 104/KN/74 Tahun 1974 tentang Petunjuk Panyelenggaraan Pakaian Seragam Pramuka.

Memperhatikan  : Kesepakatan Andalan Daerah Puteri pada Temu Karya tanggal 12-14 Mei 1980 di Jakarta.

Mendengar     : 1. Saran-saran Andalan Nasional Harian ;
2. Saran-saran staf Kwartir Nasional Gerakan Pramuka.

MEMUTUSKAN :

Menetapkan    :

Pertama    : Mancabut Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Nomor 104/KN/74 Tahun 1974, tentang Petunjuk Penyelenggaraan Pakaian Seragam Pramuka.
Kedua    : Menetapkan  Petunjuk Penyelenggaraan Pakaian Seragam Pramuka  seperti yang tertera pada lampiran surat keputusan ini.
Ketiga    : Menginstruksikan kepada Kwartir dan Satuan Gerakan Pramuka di seluruh Indonesia untuk melaksanakan isi keputusan ini.
Keempat     : Apabila kemudian ternyata terdapat kekeliruan dalam surat keputusan ini maka akan diadakan pembetulan sebagaimanan mestinya.

Keputusan ini mulai berlaku sejak ditetapkan.



Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal 18 Juni 1981.
Ketua Kwartir Nasional,




Letjen TNI (Purn) Mashudi.


LAMPIRAN KEPUTUSAN
KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA
NOMOR 088 TAHUN 1981
PETUNJUK PENYELENGGARAAN PAKAIAN SERAGAM PRAMUKA

BAB I
PENDAHULUAN


Pt.  1. Umum.
a. Gerakan Pramuka adalah suatu gerakan pendidikan yang merupakan satu-satunya wadah pendidikan kepramukaan yang menggunakan prinsip-prinsip dasar metodik pendidikan kepramukaan di Indonesia. Sebagai organisasi pendidikan, maka di samping segala sesuatu diusahakan bernilai pendidikan juga Gerakan Pramuka mempunyai ciri khas, yang membedakan dengan organisasi lain, yaitu antara lain digunakannya pakaian seragam Pramuka dan tanda pengenalnya.
b. Sesuai dengan pendidikan yang dilakukan di dalam Gerakan Pramuka, maka pakaian seragam inipun merupakan alat pendidikan, yang diharapkan dapat mempengaruhi sikap dan tingkah laku Pramuka yang mengenakannya. Penggunaan warna coklat muda dan coklat tua mengingatkan para pramuka akan pakaian yang digunakan oleh pejuang-pejuang kita di masa revolusi yang lalu, dan para prajurit yang berada di garis pertempuran. Oleh karena itu penggunaan pakaian seragam ini dipakai untuk menanamkan jiwa patriotisme yang besar dikalangan Pramuka. Di samping itu pakaian seragam ini harus praktis, menarik, menyenangkan dan membanggakan bagi pemakainya.
c. Semua anggota Pramuka mengenakan pakaian seragam Pramuka, yang bentuk, corak, warna dan tata cara pemakaiannya diatur oleh Kwartir Nasional Gerakan Pramuka. Bentuk, corak dan tata cara pemakaian tersebut disesuaikan dengan jenis pemakaiannya puteri dan putera, perkembangan jasmani dan rokhani anak didik, kegiatan yang bisa dilakukan dalam kepramukaan dan disesuaikan dengan perkembangan masyarakat.
d. Maksud Petunjuk Penyelenggaraan ini adalah untuk memberi pedoman kepada Kwartir dan satuan Pramuka, untuk menertibkan pemakaian pakaian seragam Pramuka agar dapat menunjang usaha mencapai tujuan Gerakan Pramuka, serta memberi petunjuk kepada para Pramuka Puteri dan Putera tentang pemakaian pakaian seragam secara tertib dan rapih.   
     
Pt.  2. Ruang Lingkup.
Petunjuk Penyelenggaraan ini meliputi :
a. Pendahuluan.
b. Pengertian dan Fungsi.
c. Pakaian Seragam Pramuka Puteri.
d. Pakaian Seragam Pramuka Putera.
e. Tata cara pemakaian Pakaian Seragam.
 f. Penutup.

Pt.  3  Pengertian.
a. Pakaian Seragam Pramuka adalah pakaian yang dikenakan oleh semua anggota Gerakan Pramuka, yang bentuk, corak, warna dan tata cara pemakaian seragam, sesuai dengan ketentuan yang dibuat oleh Kwartir Nasional Gerakan Pramuka.
b. Pakaian Seragam Pramuka menurut keperluannya dibagi dalam :
1) Pakaian Seragam Harian.
2) Pakaian Seragam Perkemahan, kerja bakti dan olah raga.
3) Pakaian Seragam Khusus.
4) Pakaian Seragam Satuan Karya.
c. Pakaian Seragam Pramuka terdiri dari :
1) Tutup Kepala.
2) Baju Pramuka,
a) Blus untuk Pramuka Puteri.
b) Kemeja untuk Pramuka Putera.
(1) Rok Pramuka untuk Pramuka Puteri.
(2) Celana Pramuka untuk Pramuka Putera.
(3) Pita leher untuk Pramuka Puteri.
(4) Setangan leher untuk Pramuka Putera.
(5) Kaos kaki.
(6) Sepatu.
(7) Ikat pinggang.
(8) Tas untuk Pramuka Puteri (Penegak, Pandega, Pembina, Andalan dan anggota Majelis Pembimbing).


BAB II
FUNGSI

Pt.  4. Fungsi.
a. Pakaian Seragam Pramuka berfungsi sebagai sarana untuk :
b. Menumbuhkan rasa jiwa kesatuan dan jiwa Pramuka.                                            
c. Memberi latihan/pendidikan tentang kerapihan, kesederhanaan, keindahan dan kesopanan.
d. Menanamkan harga diri, kebangsaan nasional, jiwa persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.
e. Menanamkan rasa disiplin.


BAB III
PAKAIAN SERAGAM PRAMUKA PUTERI

Pt.  5. Pakaian Seragam Harian.
Pakaian Seragam Harian terdiri dari :
a. Tutup Kepala.
b. Baju Pramuka (blus).
c. Rok Pramuka.
d. Pita Leher.
e. Kaos kaki (hanya untuk pramuka Siaga dan Penggalang).
 f. Sepatu.
g. Ikat pinggang (hanya untuk Pramuka Penggalang)
h. Tas (hanya untuk Pramuka Penegak, Pramuka Pandega dan Pembina Pramuka, Andalan dan Anggota Majelis Pembimbing).
 i. Tanda-tanda Pengenal.

Pt.  6. Jenis Pakaian Seragam Harian.
a. Pakaian Seragam Harian Pramuka Siaga.
1) Tutup kepala :
a) dibuat dari kain berwarna coklat tua.
b) berbentuk topi joki dengan lima potongan.
c) pada batas tiap potongan diberi bis ¼ cm berwarna coklat muda.
d) pada bagian atas, tepat pada pertemuan potongan-potongan, diberi bulatan hiasan, bergaris tengah antara 1 sampai 3 cm berwarna coklat tua.
e) bagian belakang dari topi itu diberi ban elastik.
 f) leher lidah topi 5 cm.
2) Baju Pramuka/blus :
a) dibuat dari kain berwarna coklat muda.
b) berbentuk baju kurung berlengan pendek.
c) ditambah lipatan hiasan melintang di dada selebar 2 cm.
e) kerah baju model shiller.
 f) tidak memakai buah baju/kancing.
g) tidak memakai lidah bahu.
h. mempunyai dua saku pada bagian muka bawah blus.
 i) baju/blus dipakai diluar rok.
3) Rok Pramuka :
a) dibuat dari kain berwarna coklat tua.
b) berbentuk rok lipatan (plooi) yang bagian dalamnya masing-masing 3 cm.
c) jumlah lipatan disesuaikan dengan dengan lingkar pinggang anak didik.
d) panjang rok sampai ke lutut.
4) Pita leher :
a) dibuat dari kain berwarna merah dan putih.
b) - lebar 3 ½ cm panjang 80 cm dan disimpulkan.
- panjang pita dari simpul 7 – 8 cm, karena itu panjang pita leher dapat disesuaikan dengan besar badan pemakai.
c) dikenakan melingkar di bawah kerah baju.
d) diikat dengan simpul mati, berwarna merah disebelah kanan.
5) Kaos kaki :
Kaos kaki pendek, berwarna hitam polos.                                               
6) Sepatu :
a) dibuat dari kulit atau kain kanvas atau bahan lain.
b) model tertutup.
c) berwarna hitam.
d) bertumit rendah.
Catatan :
Sepatu boleh berwarna coklat asal seragam untuk satu perindukan.                                                                                                                           
Contoh Pakaian Seragam Harian Pramuka Siaga periksa gambar nomor 1.
b. Pakaian Seragam Harian Pramuka Penggalang :
1) Tutup kepala :
a) dibuat dari anyaman bambu/bahan kain, berwarna cokelat tua.
b) model seperti gambar nomor 2 terlampir.
2) Baju Pramuka/blus :
a) dibuat dari kain berwarna cokelat muda.
b) berbentuk blus.
c) buah baju didepan berwarna sama dengan blusnya.
d) ditambah lipatan selebar 2 ½ cm melintang di dada,
e) berlengan pendek.
 f) kerah baju model shiller.
g) memakai lidah bahu selebar 2 ½ cm.
h) blus dipakai dengan bagian bawah dimasukan ke dalam rok.
3) Rok Pramuka :
a) dibuat dari kain berwarna cokelat tua.
b) berbentuk rok dengan bagian depan memakai dua lipatan (stolplooi) masing-masing sedalam 5 cm.
c) bagian belakang tanpa lipatan, hanya menggunakan kupnat.
d) memakai ritsliting di bagian belakang rok (berwarna cokelat tua).
e) dua saku didepan, di atas lipatan rok, memakai tutup, dan memakai lipatan selebar 2 cm (ukuran saku disesuaikan dengan besar badan).
 f) rok memakai ban dan diberi kolong untuk ikat pinggang.
g) memakai ikat pinggang selebar 4 cm berwarna cokelat tua.
h) panjang rok sampai batas lutut .
4) Pita leher :
a) dibuat dari kain berwarna merah putih.
b) - lebar 3 ½ cm panjang 80 cm dan simpulkan.
- panjang pita dari simpul 7-8 cm,karena itu panjang pita leher dapat disesuaikan dengan besar badan pemakai.
c) dikenakan melingkar dibawah kerah baju.
d) diikat dengan simpul mati, warna merah disebelah kanan.
5) Kaus kaki :
Kaus kaki pendek,berwarna hitam polos.                     
6) Sepatu :
a) dibuat dari kulit atau kain kanvas atau bahan lain.
b) model tertutup.
c) berwarna hitam.
d) bertumit rendah.
                       Catatan :
Sepatu boleh berwarna cokelat asal seragam untuk satu perindukan.
Contoh Pakaian Seragam Harian Pramuka Siaga periksa gambar Nomor 1.
c. Pakaian Harian Pramuka Penggalang :
1) Tutup kepala :
a) dibuat dari anyaman bambu/bahan kain, berwarna cokelat tua.
b) model seperti gambar nomor 2 terlampir.
2) Baju Pramuka/blus :
a) dibuat dari kain berwarna cokelat muda.
b) berbentuk blus.
c) buah baju di depan berwarna sama dengan blusnya.
d) ditambah lipatan selebar 2 ½ cm.
e) berlengan pendek.
 f) kerah baju model shiller.
g) memakai lidah bahu selebar 2 ½ cm.
h) blus dipakai dengan bagian bawah dimasukan ke dalam rok.
3) Rok Pramuka :
a) dibuat dari kain berwarna cekelat muda.
b) berbentuk rok dengan bagian depan memakai dua lipatan (stolplooi) masing-masing sedalam 5 cm.
c) bagian belakang tanpa lipatan hanya menggunakan kupnat.
d) memakai ritsliting di bagian belakang rok (berwarna cokelat tua).
e) dua saku di depan,diatas lipatan rok, memakai tutup dan memakai lipatan selebar 2 cm (ukuran saku disesuaikan dengan besar badan ).
 f) rok memakai ban dan diberi kolong untuk ikat pinggang .
g) memakai ikat pinggang selebar 4 cm berwarna cokelat tua .
h) panjang rok sampai sampai batas lutut.
4) Pita Leher :
a) dibuat dari kain berwarna merah dan putih.
- lebar 3 ½ cm panjang 90 cm dan disimpulkan.
- panjang pia dari simpul 10-15 cm, karena itu panjang pita leher dapat disesuaikan dengan besar badan pemakai.
b) Dikenakan melingkar dibawah kerah baju.
c) Diikat dengan simpul mati, warna merah disebelah kanan.   
5) Kaus kaki :
Kaus kaki pendek,berwarna hitam polos.
6) Sepatu :
a) dibuat dari kulit atau kain kanvas atau bahan lain.
b) model tertutup.
c) berwarna hitam.
d) bertumit rendah.
Catatan :
Sepatu boleh berwarna cokelat asal seragam untuk satu perindukan.
7) Tas :
Dilengkapi dengan tas gantung dari bahan dan warna seperti rok atau sepatunya.
Contoh Pakaian Seragam Harian Pramuka Siaga periksa gambar Nomor 2.
d. Pakaian seragam Harian Pramuka Penegak Pandega. :
1) Tutup kepala:
Sama seperti Pt. 6 b.1).
2) Baju Pramuka/blus :
a) Dibuat dari kain berwarna cokelat muda.
b) Model prinses di bagian depannya, sedang bagian belakang dengan kupnat.
c) Berlengan pendek.
d) Kerah model setali.
e) Memakai lidah bahu selebar 3 cm.
 f) Dua saku menempel mulai dari garis potongan prinses ke jahitan samping dengan tinggi saku ± 12-14 cm.
g) Di atas saku pada pinggang digunakan ikat pinggang hiasan selebar 2 cm.
h) Ikat pinggang hiasan bagian belakang dipasang mulai dari kupnat belakang dan bagian depan dipasang mulai dari garis prinses; keduanya dipertemukan dengan gesper  yang dipasang mati hingga ujung ikat pinggang hiasan hanya keluar 3 cm dari gesper.
 i) Panjang blus sampai garis pinggul dikenakan di luar rok..
3) Rok Pramuka :
a) dibuat dari kain berwarna cokelat tua.
b) Model tanpa lipatan, bagian bawah melebar (model ”A”)
c) panjang rok 5 cm di bawah lutut.
d) memakai ritsliting berwarna cokelat tua yang dipasang pada bagian belakang..
4) Pita leher :
a) dibuat dari kain berwarna merah dan putih,
b) - lebar 3 ½ cm panjang 110 cm dan disimpulkan .
- panjang pita dari simpul 10-15 cm karena itu panjang pita leher dapat disesuaikan dengan besar badan pemakai.
c) dikenakan melingkar dibawah kerah baju.
d) diikat dengan simpul mati, warna merah di sebelah kanan.
5) Kaus kaki;  
tanpa kaos kaki
6) Sepatu :
a) sepatu dari kulit atau kain kanvas atau bahan lainnya.
b) model tertutup.
c) berwarna hitam.
d) bertumit rendah.
Catatan :
Sepatu boleh berwarna cokelat asal seragam untuk satu Ambalan atau Racana
7) Tas
Dilengkapi dengan dengan tas gantung dari bahan warna seperti rok atau sepatunya
Contoh Pakaian Seragam Harian Penegak dan Pramuka Pandega periksa gambar nomor 3
d. Pakaian Seragam Harian Pembina Pramuka :
1) Tutup kepala :
a) dibuat dari  kain, berwarna cokelat tua.
b) berbentuk peci
c) tinggi bagian depan 5 ½ cm sedang bagian  belakang terbuka melengkung dengan jarak 3 cm
d) bagian samping kiri diberi lipatan lengkung untuk tempat tanda topi .
2) Baju Pramuka/blus :
Seperti Pt. 6 c 2).
3) Rok Pramuka:
a) dibuat dari bahan berwarna cokelat tua.
b) model rok lurus.
c) memakai lipatan di belakang (plotte plooi)
d) memakai resleting berwarna cokelat tua yang dipasang dibelakang.
e) panjang rok  ± 5 cm di bawah lutut.
4) Pita leher.
Sama seperti Pt. 6 c 4)
5) Kaos kaki :
Tanpa kaos kaki.
6) Sepatu
Sama seperti Pt. 6. c 6)
7) Tas
Dilengkapi dengan tas gantung dari bahan kulit atau bahan lainnya berwarna sesuai dengan sepatunya.
Contoh Pakaian seragam Harian Pembina Pramuka periksa gambar No.4.
e. Pakaian Seragam Harian Andalan dan Majelis Pembimbing   :
1) Tutup kepala :
    Sama seperti Pt.6 d 1)
2) Baju Pramuka/blus:
a) dibuat dari bahan berwarna cokelat muda.
b) berbentuk blus seperti tersebut pada Pt.6 c2.
c) tanpa lidah bahu dan tanpa ikat pinggang hiasan
d) lengan blus ¾ panjang.
3) Rok  Pramuka :
    Seperti Pt.6 d 3).
4) Pita leher.
a) warna sama dengan pita leher Pembina Pramuka tidak diikat simpul tetapi disilang memakai lencana harian tunas kelapa.
b) bagian yang berwarna merah terletak disebelah luar (atas) dengan ujung silangnya ada di sebelah kanan.
c) panjang pita dari silang disesuaikan dengan besart badan (6-7 cm)
5) Kaos kaki :
Tanpa kaos kaki.
6) Sepatu
a) dibuat dari kulit.
b) model tertutup.
c) berwarna hitam.
d) bertumit rendah (3-4 cm)
7) Tas
Dilengkapi dengan tas berwarna sesuai dengan sepatunya..
Contoh Pakaian Seragam Harian Andalan dan Anggota Majelis Pembimbing periksa gambar No.6.

Pt.  7. Tanda-Tanda Pengenal.
Tanda-tanda pengenal Gerakan Pramuka dan pemakaiannya diatur dalam petunjuk        penyelenggaraan tersendiri.

Pt.  8. Pakaian Seragam Perkemahan, kerja bakti dan olah raga.
a. Umum.
1) Pada saat Pramuka Puteri melakukan kegiatan berkemah, olah raga, kerja bakti dan lain-lainnya dapat mengenakan pakaian seragam perkemahan.
2) Pakaian perkemahan tidak merupakan keharusan, tetapi diatur dalam petunjuk penyelenggaraan ini dengan maksud untuk menjamin keseragaman, keserasian, kepantasan dan kepraktisan.
b. Pakaian Seragam Perkemahan Pramuka Siaga.
1) Tutup kepala :
Dapat menggunakan topi Pramuka siaga.
2) Baju.
a) dibuat dari bahan kaos model oblong berwarna cokelat muda polos.
b) berlengan pendek.
c) diberi gambar (cetak) lambang tunas kelapa di bagian dada.
d) dipakai di luar celana.
3) Celana :
a) dibuat dari kain berwarna cokelat tua.
b) model pendek ± 5 cm diatas lutut.
c) memakai pinggang elastik.
4) Kaos kaki
Kaos kaki pendek berwarna hitam.
5) Sepatu.
a) model tertutup.
b) boleh menggunakan sepatu olah raga.
Bila menggunakan tutup kepala yang lain harus keseragaman untuk seluruh perindukan Siaga yang bersangkutan. Demikian pula sepatu model lain asal tertutup, dan dan dapat tidak memakai kaos kaki asal seluruh Perindukan tidak memakainya. Warna sepatu dan kaos kaki dapat ditentukan sendiri asal seluruh prindukan seragam.
Contoh  pakaian seragam perkemahan Pramuka Siaga periksa gambar No.1.
c. Pakaian seragam Perkemahan Pramuka Penggalang.
1) Tutup kepala ;
Dapat memilih model dan warna sendiri, asal seragam untuk semua anggota regu atau pasukan yang bersangkutan.
2) Baju.
a) dibuat dari bahan kaos model oblong berwarna cokelat muda polos.
b) berlengan pendek.
c) diberi gambar (cetak) lambing tunas kelapa di dada.
d) dipakai dalam atau luar celana.
3) Celana.
a) dibuat dari kain berwarna cokelat tua polos.
b) model dapat dipilih sendiri, misalnya model celana rok, celana pendek, celana panjang (bukan cutbrai) asal seragam untuk seluruh regu/pasukan.
4). Kaos kaki.
Tidak diwajibkan memakai kaos kaki tetapi jika memakai kaos kaki hendaknya disesuaikan dengan sepatunya.
5).Sepatu.
Model dan warna sepatu dapat dipilih sendiri, asal serasi dan seragam untuk seluruh anggota regu/pasukan. Seragam untuk seluruh anggota  regu/pasukan.
Contoh pakaian seragam Perkemahan Pramuka Penggalang periksa gambar Nomor 2.
d. Pakaian seragam Perkemahan Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega.
1) Tutup kepala ;
Dapat menentuka model dan warna sendiri, asal seragam untuk semua anggota Sangga/ Ambalan dan Racana  yang bersangkutan.
2) Baju.
Sama seperti Pt. 8 c2).
3) Celana.
Sama seperti Pt. 8 c3
4) Kaos kaki.
Sama seperti Pt. 8 c4
5).Sepatu.
Sama seperti Pt. 8.c 5
Contoh Pakaian Seragam Perkemahan Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega periksa gambar No.3.
e. Pakaian Seragam Pembina Pramuka .
1) Tutup Kepala
Dapat menentukan bentuk dan warna sendiri, asal seragam untuk semua Pembina Pramuka dalam Gugusdepan yang bersangkutan.
2) Baju.
Sama seperti Pt. 8 c2)
3) Celana:
a) dibuat dari kain berwarna cokelat tua.
b) model penjang sampai mata kaki.
c) lembar bagian bawah sepantasnya.
4) Kaos kaki.
Sama seperti Pt. 8 c 4)
5) Sepatu
Sama seperti Pt. 8 C5)
Contoh Pakaian seragam Perkemahan Pembina Pramuka periksa gambar no.4
 f. Pakaian Seragam Perkemahan Andalan dan Anggota Mejelis Pembimbing.
Jika mereka mengikuti kegiatan perkemahan olah raga dan sebagainya dapat menggunakan pakaian seragam perkemahan pembina Pramuka Puteri.
Contoh pakaian seragam perkemahan periksa gambar No.4

Pt.  9. Pakaian Seragam Pramuka khusus.
Pengertian :
Pada dasarnya pakaian seragam Pramuka Puteri seperti pakaian seragam Pramuka tersebut pada Bab III di atas.
Apabila karena pertimbangan agama, adat dan lingkungan (upacara, resepsi dan peristiwa lainnya) tidak dapat mengenakan pakaian seragam Pramuka sebagai mana ditetapkan di atas, maka Pramuka Putri dapat mengenakan pakaian seragam Pramuka Khusus seperti tersebut pada pada petunjuk berikut ini :
a. Tutup kepala:
1) Berwarna cokelat muda.
2) Berbentuk : a) kerudung panjang .
b) kerudung bujur sangkar atau segi tiga.
c) topi pakai elastik.
3) Dapat tanpa tutup kepala.
b. Baju Pramuka/blus.
Sesuai peraturan umum tetapi berlengan panjang.
c. Rok Pramuka:
Model rok panjang atau model sarung pakai ritsliting berwarna cokelat tua.
d. Kaos kaki:
Sama dengan peraturan umum.
e. Sepatu.
Sama dengan paraturan umum .
 f. Tas :
Memakai tas tangan sesuai dengan warna sepatu.

Pt. 10. Pakaian Tambahan.
Dapat menggunakan jaket sebagai pakaian tambahan, dengan petunjuk sebagai berikut :
a. Warna cokelat tua sesuai dengan rok.
b. Dapat digunakan warna lain sebagai tanda pengenal untuk satu kesatuan.
c. Model lengan panjang.
d. Model kerah dapat ditentukan sendiri, asal seragam untuk tiap regu/pasukan.
e. Panjang badan jaket melebihi baju.

Pt. 11. Pakaian Seragam Satuan Karya.
Pakaian seragam untuk anggota Satuan Karya adalah sama dengan Pramuka Penegak atau Pramuka Pandega, seperti tersebut dalam Pt. 6 c dengan memakai tanda-tanda satuan karya menurut peraturan yang berlaku tentang pemakaian tanda pengenal Gerakan Pramuka.


BAB IV
PAKAIAN SERAGAM PARMUKA PUTERA

Pt. 12. Pakaian Sergam Harian.
Yang termasuk pakaian seragam harian dalam petunjuk penyelenggaan ini adalah :
a. Tutup kepla, yaitu topi baret, peci atau topi rimba.
b. Baju Pramuka (kemeja).
c. Celana Pramuka.
d. Setangan leher.
e. Kaoskaki
 f. Sepatu
g. Ikat pinggang.
Tanda pengenal yang ditempelkan pada pakaian seragam tersebut diatur dengan petunjuk penyelenggaraan tersendiri.

Pt. 13. Jenis Pakaian Seragam Harian .
a. Pakaian Seragam Harian Pramuka Siaga. 
1) Tutup Kepala:
a) dibuat dari kain berwarna cokelat tua.
b) berbentuk baret.
c) dikenakan diatas kepala dengan tepi mendatar, tetapi bagian atasnya ditarik miring kekanan sedikit.
d) tanda topi terletak di atas pelipis sebelah kiri.
2) Baju Pramuka/kemeja.
a) dibuat dari kain berwarna cokelat muda.
b) berbentuk baju kurung.
c) berlengan pendek
d) kerah baju model shiler.
e) tidak memakai lidah bahu.
 f) tidak memakai buah baju/kancing (kalau diperlukan cukup dengan satu buah baju/kancing atau memakai ritsliting pendek.).
g) diberi lipatan hiasan melintang di dada.
h) memakai dua saku bagian muka bawah baju.
 i) baju dikenakan di luar celana.
3) Celana pramuka:
a) dibuat dari kain berwarna cokelat tua.
b) berbentuk celana pendek.
c) tidak memakai ikat pinggang.
d) diberi ban elastik/karet.
e) dua saku celana masing-masing disebelah kiri dan kanan
 f) memakai buah baju (kancing) atau retleting di bagian depan celana.
4) Setangan leher.
a) dibuat dari kain berwarna merah putih.
b) berbentuk segi tiga sama kaki.
c) - sisi panjang 90 cm dengan sudut 90o.
- panjang sisi setangan leher dapat disesuaikan dengan tinggi badan pemakai.
d) dikenakan dengan cincin (ring) setangan leher.
e) dikenakan di bawah kerah baju.
 f) setangan leher dilipat sedemikian rupa sehingga warna merah putih tampak dengan jelas, dan pemakaioan setangan leher tampak rapih.
g. cara melipatnya adalah sebagai berikut. 
(1) dilipat empat kali sejajar dengan sisi terpanjang, dengan arah yang sama.
(2) Sebagai lipatan terakhir (ke lima) dilakukan dengan membagi dua sama lebar lipatan itu kearah memanjang.
5) Kaus kaki : 
a) Kaus kaki pendek.
b) Berwarna hitam polos(tidak bergambar hiasan).
6) Sepatu :
a) dibuat dari kulit atau kain atau bahan lainnya.
b) berbentuk sepatu rendah (bukan lars).
c) berwarna hitam atau cokelat asal seragam untuk satu perindukan.
Contoh pakaian seragam harian Pramuka Siaga periksa gambar No, 8.
b. Pakaian seragam Harian Pramuka Penggalang.
1) Tutup kepala :
Sama seperti Pt.13.a 1) (Pakaian Seragam Harian Pramuka Siaga).
2) Baju Pramuka:
a) dibuat dari kain berwarna cokelat muda.
b) berbentuk kemeja pendek.
c) kerah baju model kerah dasi.
d) memakai lidah baju.
e) diberi buah baju (kancing) sebanyak 5 bh di bagian depan,
 f) memakai dua saku di dada kiri dan dada kanan.
g) ditambah lipatan saku tengah.
h) memakai tutup saku
 i) bagian bawah baju dikenakan di dalam celana.
3) Celana Pramuka:
a) dibuat dari kain berwarna cokelat tua.
b) berbentuk celana pendek.
c) mempunyai dua saku disamping kiri dan kanan.
d) memakai ikat pinggang yang dibuat dari kulit atau kain kanvas, berwarna hitam selebar  ± 3 cm.
e) pada bagain bahan celana dibuat tempat ikat pinggang (kolongan sebanyak lima buah).
 f) memakai buah baju atau ritsliting dibagain depan celana.
4) Setangan leher. 
a) dibuat dari kain berwarna merah putih.
b)  Berbentuk segi tiga sama kaki.
c) - sisi panjang 90 cm dengan sudut 90o.
- panjang sisi setangan leher dapat disesuaikan dengan tinggi badanpemakai.
d) dikenakan dengan cincin (ring) setangan leher.
e) Dikenakan di bawah kerah baju.
 f) Setangan leher dilipat sedemikian rupa sehingga warna merah putih tampak  dengan jelas, dan pemakaian setangan leher tampak rapih.
g) Cara melipatnya adalah sebagai berikut.
(1) dilipat empat kali sejajar dengan sisi terpanjang, dengan arah yang sama.
(2) Sebagai lipatan terakhir (ke lima) dilakukan dengan membagi dua sama  lebar lipatan itu kearah memanjang
5) Kaos kaki:
a) Kaos kaki pendek.
b) Berwarna hitam polos (tidak bergambar hiasan).
6) Sepatu:
a) dibuat dari kulit atau kain kanvas atau bahan lainnya,
b) berbentuk sepatu rendah (bukan lars)
c) berwarna hitam.
Catatan :
Ikat pinggang dan sepatu dapat berwarna cokelat asal seragam untuk Regu/Pasukan.
Contoh pakaian seragam Pramuka Penggalangperiksa gambar No.9
c. Pakaian Seragam Harian Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega :
1) Tutup kepala :
Sama seperti Pt.13 a 1) (Pakaian Seragam Harian Pramuka Siaga/Penggalang).
2)  Baju Pramuka :
Sama seperti Pt.13. b 2) (Pakaian Seragam Harian Penggalang ).
3) Celana:
a) dibuat dari kain cokelat tua,
b) berbentuk celana panjang,
c) memakai dua saku sampingkiri dan kanan serta dua saku dibagian belakang dengan memakai tutup dan buah baju (kancing).
d) memakai ikat pinggang yang dibuat dari kulit atau kain kanvas atau bahan lainnya berwarna hitam selebar ± 3 cm.
e) pada bagian ban  celana dibuat tempat ikat pinggang (kolongan) sebanyak lima buah,
 f) pada bagian depan celana memakai buah baju atau ritsliting.
4) Setangan leher.
a) dibuat dari kain berwarna merah putih.
b) Berbentuk segi tiga sama kaki.
c) -sisi panjang 120 cm dengan sudut 90o.
- panjang sisi setangan leher dapat disesuaikan dengan tinggi badan pemakai.
d) dikenakan dengan cincin (ring) setangan leher.
e) dikenakan di bawah kerah baju.
 f) Setangan leher dilipat sedemikian rupa sehingga warna merah putih tampak  dengan jelas, dan pemakaian setangan leher tampak rapih.
g) Cara melipatnya adalah sebagai berikut.
(1) dilipat empat kali sejajar dengan sisi terpanjang, dengan arah yang sama.
(2) sebagai lipatan terakhir (ke lima) dilakukan dengan membagi dua sama  lebar lipatan itu ke arah memanjang
5) Kaos kaki:
a) kaos kaki pendek.
b) berwarna hitam polos (tidak bergambar hiasan).
6) Sepatu:
a) dibuat dari kulit atau kain kanvas atau bahan lainnya,
b) berbentuk sepatu rendah (bukan lars)
c) berwarna hitam.
Catatan :
Ikat pinggang dan sepatu dapat berwarna cokelat asal seragam untuk satu Ambalan atau Racana.
Contoh pakaian seragam Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega periksa gambar No.9
d. Pakaian seragam harian Pembina Pramuka, Andalan dan anggota Majelis Pembimbing
1) Tutup Kepala :
a) dibuat dari kain berwarna hitam polos (tidak berhiasan)
b) berbentuk peci nasional,
c) dikenakan diatas kepala gak miring sedikit kekanan.
2) Baju Pramuka:
Sama seperti Pt.13 b 2) (Pakaian Seragam Harian Pramuka Penggalang/Penegak.)
3) Celana Pramuka:
Sama seperti Pt.13 c 3) (Pakaian Seragam Harian Pramuka Penegak.)
4) Setangan leher:
Sama seperti Pt.13 c 4 ) (Pakaian Seragam Harian Pramuka Penegak.)
5) Kaos kaki:
Sama seperti Pt.13 c 5 ) (Pakaian Seragam Harian Pramuka Penegak.)
6) Sepatu:
Sama seperti Pt.13 c 6) (Pakaian Seragam Harian Pramuka Penegak.)
Contoh pakaian seragam harian Pembina Pramuka, Andalan dan Anggota Majelis Pembimbing periksa gambar no.11

 Pt. 14. Pakaian Seragam Perkemahan, Kerja Bakti dan Olah Raga.
a. Umum.
1) Dalam perkemahan, kerja bakti,olah raga atau kegiatan lainnya, pimpinan kegiatan tersebut dapat memberi ketentuan lain tentang pemakaian pakaian seragam Pramuka, yang khusus berlaku selama mengikuti kegiatan tersebut tanpa meninggalkan atau menyimpang dari tujuan pemakaian seragam Pramuka.
2) Pada saat Pramuka putra melakukan kegiatan berkemah, kerja bakti, olah raga dan lain-lain diusahakan sejauh mungkin agar memakai pakaian seragam yang disesuaikan dengan kegiatan-kegiatan yang dilakukan.
3) Pada umumnya pakaian seragam untuk kegiatan-kegiatan tersebut dinamakan Pakaian Seragam Perkemahan.
4) Pakaian Seragam Perkemahan tidak merupakan keharusan, tetapi diatur dalam petunjuk penyelenggaraan ini dengan maksud untuk menjamin keseragaman, keserasian, kepantasan dan kepraktisan.
b. Pakaian Seragam Perkemahan Pramuka Siaga.
1) Tutup Kepala :
a) dibuat dari kain berwarna cokelat tua,
b) berbentuk topi lapangan.
2) Baju Perkemahan :
a) dibuat dari bahan kaos model oblong.
b) berlengan pendek.
c) berwarna cokelat muda.
d) diberi gambar (cetak) lambing tunas kelapa di dada sebelahkiri.
3).Celana Perkemahan :
a) dibuat dari bahan berwarna cokelat tua,
b) model celana pendek.
c) memakai ban elastik.
4) Kaos kaki.
a) kaus kaki pendek.
b) berwarna hitam polos.
5) Sepatu:
a) model tertutup, memakai tali.
b) boleh menggunakan sepatu model olah raga.
Catatan:
Bila digunakan tutup kepala yang lain harus ada keseragaman untuk seluruh Perindukan Siaga yang bersangkutan. Demikian pula sepatu model lain asal tertutup, dan dapat tidak memakai kaus kaki asal seluruh perindukan tidak memakainya. Warnanya dapat ditentikan sendiri  putih, hitam atau biru asal seluruh perindukan seragam.
Contoh pakaian seragam Perkemahan Pramuka Siaga periksa gambar No. 8.
c. Pakaian Seragam Perkemahan Pramuka Penggalang.
1) Tutup Kepala :
a) dibuat dari kain berwarna cokelat tua,
b) berbentuk topi lapangan.
2) Baju Perkemahan :
a) dibuat dari bahan kain berwarna cokelat muda..
b) berlengan pendek.
c) berbentuk kaos oblong.
d) diberi gambar (cetak) lambang tunas kelapa di dada sebelah kiri.
3).Celana Perkemahan :
a) dibuat dari bahan berwarna cokelat tua,
b) model celana pendek.
c) memakai ikat pinggang.
4)  Kaos kaki.
Sama seperti Pt.14 b 4) (Pakaian Seragam Perkemahan Pramuka Siaga)
5) Sepatu..
Sama seperti Pt.14 b 5) (Pakaian Seragam Perkemahan Pramuka Siaga)
d.  Pakaian Seragam Perkemahan Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega.
1) Tutup Kepala :
a) dibuat dari kain berwarna cokelat tua,
b) berbentuk topi rimba atau topi lapangan.
2) Baju Perkemahan :
Sama seperti Pt.14 c 2) (Pakaian Seragam Perkemahan Pramuka Penggalang)
3).Celana Perkemahan :
a) dibuat dari bahan berwarna cokelat tua,
b) model celana panjang.
c) memakai ikat pinggang.
d) memakai dua saku di samping kanan dan kiri, serta dua saku dibagian belakang dengan memakai tutup dan  buah baju (kancing)
4)  Kaos kaki.
Sama seperti Pt.14 b 4) (Pakaian Seragam Perkemahan Pramuka Siaga/Penggalang)
5) Sepatu.
Sama seperti Pt.14 b 5) (Pakaian Seragam Perkemahan Pramuka Siaga)
e. Pakaian Seragam Perkemahan Pembina Pramuka dan Anggota Majelis Pembimbing. .
1) Tutup Kepala :
Sama seperti Pt.14 d 1) (Pakaian Seragam Pramuka Penegak)
2) Baju Perkemahan :
Sama seperti Pt.14 c 2) (Pakaian Seragam Perkemahan Pramuka Penggalang)
3).Celana Perkemahan :
Sama seperti Pt.14 d 3) (Pakaian Seragam Perkemahan Pramuka Penegak dan Pandega.)
4)  Kaos kaki.
Sama seperti Pt.14 b 4) (Pakaian Seragam Perkemahan Pramuka Siaga)
5) Sepatu.
Sama seperti Pt.14 b5) (Pakaian Seragam Perkemahan Pramuka Siaga)

Pt. 15. Pakaian Seragam Anggota Satuan Karya.
Pakaian Seragam Pramuka untuk Anggota stuan karya, sama dengan pakaian seragam Harian Pramuka Penegak/Pandega (tersebut dalam Pt.13c) dengan memakai tanda-tanda satuan karya menurut peraturan yang berlaku tentang pemakaian tanda pengenal Gerakan Pramuka.

Pt. 16. Tutup Kepala untuk di Lapangan.
a. Untuk kegiatan di lapangan semua anggota Gerakan Pramuka boleh menggunakan topi rimba berwarna cokelat tua.
b. Untuk pembina Pramuka Andalan dan anggota Mabi, selain menggunkaan topi rimba, dibenarkan juga memakai topi pet atau topi lapangan berwarna cokelat tua, dengan tanda topi tertentu.
Catatan:
Dapat juga menggunakan topi anyaman dari bambu/rotan.

Pt. 17. Pakaian tambahan.
a. Jaket.    
1) Untuk waktu dingin dapat digunakan jaket.
2) Secara umum digunakan warna cokelat tua sesuai dengan celana.
3) Dapat digunakan warna lain sebagai tanda pengenal untuk kesatuan.
4) Model lengan panjang.
5) Model kerah dapat ditentukan, asal seragam untuk tiap regu/pasukan.
6) Panjang badan jaket melebihi ban pinggang celana.
b.Pakaian Seragam Pramuka untuk diluar Negeri.
Pakaian Seragam Pramuka untuk diluar negeri pada umumnya sama dengan seragam Pramuka, hanya diberi badge yang ditentukan. Khusus untuk musim dingin (winter) dapat memakai jaket dan bagi Siaga dibenarkan memakai celana panjang.
c. Pakaian seragam Kerja Kwartir.
Pakaian Seragam Kerja di Kwartir akan ditentukan dalam petunjuk penyelenggaraan tersendiri.


BAB V
TATA CARA PEMAKAIAN

Pt. 18. Tata cara Pemakaian Seragam Pramuka.
a. Seorang calon anggota Pramuka yang belum dilantik/dikukuhkan atau belum mendapat perestua, dengan mengucap Satya Pramuka(janji), hanya dibenarkan memakai pakaian seragam tanpa tutup kepala, tanpa setangan leher dan tanpa menggunakan tanda pengenal Gerakan Pramuka.
b. Seorang anggota gerakan Pramuka yang telah memenuhi syarat dan dilantik/dikukuhkan atau mendapat perestuan berhak memakai pakaian seragam Pramuka lengkap dengan setangan lehir dan tutup kepala serta tanda pengenal Gerakan Pramuka sesuai dengan ketentuan yang berhubungan dengan usia golongan dan tingkatan.
c. Pakaian Seragam Pramuka harus dikenakan oleh mereka yang berhak,secara lengkap,rapih,dan benar,sesuai dengan ketentuan yang berlaku lebih-lebih si pemakai bergerak dimuka umum.
d. Pakaian seragam Pramuka dikenakan hanya bilamana yang bersangkutan bertindak sebagai anggota Gerrakan Pramuka yang melaksanakan tugas atau kegiatan kepramukaan.
e. Pada saat seorang anggota pramuka bertindak sebagaiu anggota organisasi lain, yang sedang melakukan tugas atau kegiatan organisasi tersebut, tidak dibenarkan memakai pakaian Seragam Pramuka dan/atau tanda pengenal Gerakan Pramuka.
 f. Pada saat seorang anggota Gerakan Pramuka sebagai anggota organisasi atau badan politik, yang sedang melakukan tugas atau kegiatan organisasi atau badan politik tersebut, dilarang keras memakai seragam Pramuka dan/atau tanda pengenal Gerakan Pramuka.
g. Pada saat seorang anggota Gerakan Pramuka bertindak sebagai anggota gerakan Pramuka, dan melaksanakan tugas dan kegiatan kepramukaan, tidak dibenarkan memakaian pakaian seragam dan atau tanda pengenal organisasi/badan lain diluar gerakan Pramuka.
h. Untuk menjaga harkat dan martabat Gerakan Pramuka, maka setiap anggota Gerakan Pramuka, yang menggunakan pakaian seragam Pramuka, bertanggung jawab atas nama baik Gerakan Pramuka dan harus bersikap atau bertindak sesuai dengan Satya Darma Pramuka.
 i. Pakaian Seragam Pramuka juga dipakai pada saat seorang anggota Gerakan Pramuka atas nama Gerakan Pramuka, mengikuti upacara-upacara Hari Besar Nasional, Upacara dan kegiatan lainnya yang diselenggarakan Pemerintah atau organisasi lain, yang sesuai Dengan prinsip pemdidikan,dan tidak bertentangan dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Gerakan Pramuka.
 j. Pakaian kerja atau oleh raga hendaknya diusahakan seragam bagi seluruh anggota Gugusdepan atau Satuan Karya, dan dengan sepengetahuan dan Persetujuan Kwartir yang bersangkutan.
k. Pakaian kerja atau oleh raga tersebut hanya dipakai selama mengikuti kegiatan tersebut.
 l. Kwartir atau satuan Gerakan Pramuka, dan setiap anggota Gerakan Pramuka berkewajiban untuk saling memperingatkan dan saling membetulkan cara pemakaian pakaian serragam Pramuka yang tidak sesuai dengan ketentuan dalam petunjuk penyelenggaraan ini, dengan cara menegur yang baik dan bijaksana , dan bernilai pendidikan.


BAB VI
PENUTUP

Hal-hal lain yang belum diatur dalam petunjuk penyelenggaraan ini, akan diatur kemudian oleh Kwartir Nasional Gerakan Pramuka.

                                                                                 Jakarta, 18 Juni 1981.
                                                                                 Ketua Kwartir Nasional.             




                                                                                 Letjen TNI (Purn) Mashudi.
 





RENCANA STRATEGIK GERAKAN PRAMUKA

KEPUTUSAN
MUSYAWARAH NASIONAL GERAKAN PRAMUKA
NOMOR :  10/MUNAS/2003
TENTANG
RENCANA STRATEGIK GERAKAN PRAMUKA 2004-2009


Dengan rahmat Tuhan Yang Maha Esa,

Menimbang    : 1. Bahwa Dalam mengemban tujuan dan misi Gerakan Pramuka, diperlukan suatu perencanaan dan program yang strategic dan berkesinambungan, berupa kebijakan dan prioritas program yang dituangkan dalam Rencana Strategik Gerakan Pramuka (Renstra);
2. Bahwa Renstra Gerakan Pramuka merupakan dasar bagi penyusunan rencana kerja lima tahunan dan program kerja tahunan Gerakan Pramuka, sehingga dalam mencapai sasaran program dapat diselenggarakan secara berdaya guna dan berhasil guna ;
3. Bahwa Munas Gerakan Pramuka 2003 mempunyai tugas dan wewenang untuk menetapkan Renstra Gerakan Pramuka 2004-2009.

Mengingat    : 1. AD dan ART Gerakan Pramuka.
2. Renstra Gerakan Pramuka 1999-2004.

Memperhatikan    : Hasil Sidang Komisi B dan Sidang Paripurna Munas Gerakan Pramuka 2003.

MEMUTUSKAN :

Menetapkan    :
Pertama     : Mengesahkan Rencana Strategik Gerakan Pramuka 2004-2009 yang dilengkapi dengan kesimpulan Sidang Komisi Renstra MUnas 2003.
Kedua    : Melimpahkan wewenang kepada Kwartir Nasional Gerakan Pramuka masa bakti 2003-2008 untuk menyempurnakan Rencana Strategik Gerakan Pramuka 2004-2009.
Ketiga    : Keputusan ini berlaku sajak ditetapkan.



Ditetapkan di Pontianak
Pada tanggal  18 Desember 2003.

Presidium Munas Gerakan Pramuka 2003,




Sundoro Syamsuri
Ketua





Dr. H. Noer Bahry Noer, MSc.    Amos Asmuruf
Anggota    Anggota





Drs. H. Didi Edia Kartadinata     Riyadi Santoso, SPd.
Anggota     Anggota







RENCANA STRATEGIK GERAKAN PRAMUKA
2004 - 2009

BAB I
PENDAHULUAN

  A. UMUM

Falafah Pancasila sebagi Dasar Negara merupakan nilai dasar spiritual keagamaan, kemanusiaan, dan kesatuan bangsa yang menjadi landasan dasar dalam pembangunan bangsa baik pembangunan sumber daya manusia maupun pembangunan fisik.
Kepramukaan sebagai gerakan pendidikan pada jalur pendidikan non formal merupakan bagian tak terpisahkan dari system pendidikan dalam menyiapkan anak bangsa menjadi kader bangsa yang berkualitas baik moral, mental, spiritual, intlelektuan, emosional, maupun fisik dan ketrampilan.
 Sampai dengan saat ini masih mengalami krisis multidimensional, yang meliputi semua aspek kehidupan sosial.
Biaya pendidikan makin tinggi sehingga mendorong meningkatnya anak putus sekolah serta jumlah penganggguran. Disamping itu ketersediaan lapangan kerja tidak diikuti oleh pertumbuhan angkatan kerja. Yang sangat memprihatinkan adalah krisis dalam nilai-nilai, akhlak, mental dan moral di masyarakat, yang berdampak pada anak muda dan berakibat dalam pembentukan watak, sikap, tingkah laku dan budi pekertinya.

Gerakan Pramuka, sebagai organisasi non formal yang turut berperan dalam pendidikan kaum muda Indonesia, tidak terlepas dari masalah-masalah ini. Tantangan utama yang dihadapi adalah bagaimana cara dan usahanya untuk menanggapi berbagai perubahan besar itu, terutama yang membawa dampak bagi kaum muda.

PBB telah menyatakan dasawarsa mulai tahun 2001, sebagai “International decade for Peace and Non-Violence for the Children of the World” (Dasawarsa Internasional untuk Budaya Perdamaian dan Non-Kekerasan bagi Anak Dunia), dengan menugaskan Unesco sebagai coordinator prakarsa itu. Sedangkan WOSM (Gerakan Pramuka Sedunia) telah mencanangkan tema khidmat “One World, One Promise” dalam menyambut usia seabad Gerakan Kperamukaan Sedunia pada tahun 2007, yang kiranya perlu dipadukan dengan langkah nyata bahwa Pramuka adalah peserkat bangsa.
Kepengurusan Gerakan Pramuka masa bakti 2003-2008 tidak terelakkan dari keadaan dengan segala problematiknya itu dan masih akan menghadapi masa penuh ketidakpastian, kendala dan keterbatasan sumberdaya. Dengan memperhatikan permasalahan global dan nasional disusunlah Renstra Gerakan Pramuka 2004-2009 yang merupakan pedoman Gerakan Pramuka dalam upaya menghadapi berbagai tantangan dan perubahan masa depan.

Rencana Strategik Gerakan Pramuka ini, merupakan kelanjutan rencana strategik sebelumnya, dan telah disusun dengan menyadari sepenuhnya akan kendala-kendala yang dihadapi, namun tetap dengan tekad dan semangat untuk menanggapi semua tantangan dan senantiasa berupaya penuh dalam mewujudkan cita-cita luhur bangsa melaui kegiatan kepramukaan yang positif dan nyata.

  B. MAKSUD DAN TUJUAN

Maksud dan tujuan Rencana Strategik Gerakan Pramuka Tahun 2004-2009 adalah menetapkan strategi dan prioritas-prioritas program Gerakan Pramuka dalam kurun waktu 2004-2009, untuk dijadikan dasar penyusunan rencana kerja dan sasaran kegiatan seluruh jajaran Gerakan Pramuka.

  C. DASAR

a. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Gerakan Pramuka
b. Keputusan Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Nomor 141 Tahun 1999 tentang Sistem Perencanaan, Pemrograman dan Penganggaran Gerakan Pramuka.
c. Panca Karsa Utama 1999-2004, Renstra Gerakan Pramuka.
d. Keputusan Musyawarah Nasional Gerakan Pramuka Tahun 2003

  D. TATA URUT

Bab I    :    Pendahuluan
Bab II    :    Hakekat dan Misi Gerakan Pramuka
Bab III    :    Kondisi Gerakan Pramuka Saat Ini
Bab IV    :    Perkembangan Lingkungan Strategik
Bab V    :  Tantangan   
Bab VI    :  Sasaran Strategik: Gerakan Pramuka Masa Depan
Bab VII    :     Program Prioritas dan Sasaran
Bab VIII    :    Penutup



BAB II
HAKEKAT DAN MISI GERAKAN PRAMUKA

A.  HAKEKAT KEPRAMUKAAN

1. Umum
Gerakan Pramuka yang diresmikan berdirinya pada tanggal 14 Agustus 1961 merupakan kesinambungan gerakan kepanduan nasional Indonesia yang bertujuan menumbuhkan tunas bangsa menjadi generasi yang dapat menjaga keutuhan, persatuan dan kesatuan bangsa, bertanggungjawab serta mampu mengisi kemerdekaan Indonesia.
Kepramukaan pada hakekatnya adalah suatu proses pendidikan yang menyenangkan bagi anak muda, dibawah tanggungjawab anggota dewasa, yang dilaksanakan di luar lingkungan pendidikan sekolah dan keluarga, dengan tujuan, prinsip dasar dan metode pendidikan tertentu.
Gerakan Pramuka adalah suatu gerakan pendidikan untuk kaum muda, yang bersifat sukarela, nonpolitik, terbuka untuk semua, tanpa membedakan asal-usul, ras, suku dan agama, yang menyelenggarakan kepramukaan melalui suatu sistem nilai yang didasarkan pada Satya dan Darma Pramuka.

2. Tujuan
Gerakan Pramuka mendidik dan membina kaum muda Indonesia guna mengembangkan mntal, moral, spiritual, emosional, social, intelektual dan fisisknya sehingga menjadi:
1) Manusia berkepribadian, berwatak dan berbudi pekerti luhur yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, kuat mental, dan tinggi moral; tinggi kecerdasan dan mutu ketrampilannya; kuat dan sehat jasmaninya.
2) Warga Negara Republik Indonesia yang berjiwa Pancasila, setia dan patuh kepada Negara Kesatuan  Republik Indonesia serta menjadi anggota masyarakat yang baik dan berguna, yang dapat membangun dirinya sendiri secara mandiri serta bersama-sama bertanggungjawab atas pembangunan bangsa dan negara, memiliki kepedulian terhadap sesama hidup dan alam lingkungan, baik lokal, nasional maupun internasional.

3. Prinsip Dasar
Prinsip Dasar Kepramukaan adalah:
a. Iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
b. Peduli terhadap bangsa dan tanah air, sesama hidup dan alam seisinya;
c. Peduli terhadap diri pribadinya;
d. Taat kepada Satya dan Darma Pramuka.

4. Metode Kepramukaan
Metode Kepramukaan merupakan cara belajar interaktif dan progresif melalui:
a. pengamalan Kode Kehormatan Pramuka;
b. belajar dengan melakukannya (berbuat);
c. sistem berkelompok;
d. kegiatan yang menantang dan meningkat serta mengandung pendidikan yang sesuai dengan perkembangan rohani dan jasmani peserta didik;
e. kegiatan di alam terbuka;
 f. sistem tanda kecakapan;
g. sistem satuan terpisah untuk putra dan putri;
h. kiasan dasar.

B.  KEPRAMUKAAN SEBAGAI SISTEM PENDIDIKAN
Definisi pendidikan dalam arti kata luas adalah proses sepanjang hayat yang memungkinkan seseorang mengembangkan kapasitas dirinya sebagai individu dan sebagai anggota masyarakat secara menyeluruh dan berkesinambungan.
Pendidikan bertumpu pada empat sendi atau “soko guru”, yaitu :
1) belajar mengetahui (learning to know);
untuk memiliki pengetahuan umum yang cukup luas dan dapat bekerja secara mendalam pada berbagai hal. Ini juga mencakup belajar untuk mengetahui, agar dapat memanfaatkan peluang-peluang pendidikan sepanjang hidup;
2) belajar berbuat (learning to do);
bukan hanya untuk memperoleh kecakapan/keterampilan kerja, melainkan juga untuk memiliki keterampilan hidup yang luas, termasuk hubungan antar pribadi dan hubungan antar kelompok;
3) belajar hidup bersama (learning to live together);
untuk menumbuhkan pemahaman orang lain, menghargai saling ketergantungan, keterampilan dalam kerja kelompok dan membereskan pertentangan-pertentangan, serta menghormati sedalam-dalamnya nilai-nilai kemajemukan (pluralisme), saling pengertian, perdamaian dan keadilan;
4) belajar menjadi seseorang (learning to be);
agar dapat lebih mengembangkan watak, serta dapat bertindak mandiri, berpendapat dan bertanggungjawab pribadi yang makin besar.

Berbeda dengan pendidikan nonformal lainnya, Kepramukaan mencakup keempat “soko guru” pendidikan yang telah disebut di atas, yaitu: belajar mengetahui, belajar berbuat, belajar hidup bersama dan belajar menjadi seseorang.
Kepramukaan memiliki sistem pendidikan terorganisasi dan lengkap dengan lima komponen utamanya, yakni:
1) Tujuan pendidikan,
yaitu pengembangan potensi anak muda sebagai pribadi dan anggota masyarakat yang mandiri, yang siap membantu sesama, bertanggungjawab dan berkomitmen.
2) Peserta didik,
yaitu anggota muda putra-putri Indonesia berusia 7 hingga 25 tahun, yang digolongkan menjadi Pramuka Siaga, Pramuka Penggalang, Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega.
3) Yang mendidik,
disebut pembina (bukan guru, pelatih atau instruktur), lebih bertindak sebagai kakak yang lebih dewasa yang membantu anak mengembangkan diri, dengan menerapkan metode kepramukaan,
4) Metode pendidikan,
yaitu pendidikan diri yang progesif, tertuang dalam Metode Kepramukaan, yang merupakan titik kuat dan kekhasan Gerakan Pramuka,
5) Materi pendidikan atau kurikulum,
tertuang dalam Program Kegiatan Peserta Didik, berbentuk kegiatan yang mengandung kaidah pendidikan. Kegiatan yang menarik dan menyenangkan, sehat, berperaturan dan berguna, serta dilaksanakan di alam terbuka.

Pendekatan pendidikan yang digunakan dalam kepramukaan adalah pendekatan yang utuh dan menyeluruh (holistik). Namun demikian, kepramukaan tetap merupakan pelengkap jalur-jalur pendidikan lainnya dan memberi kontribusi kepada keseluruhan pendidikan anak muda.

C. CIRI-CIRI KEPRAMUKAAN
1. Sukarela
Kepramukaan adalah gerakan pendidikan yang bersifat sukarela, tidak membedakan asal usul, suku, ras, golongan atau agama.  Sifat sukarela menggarisbawahi persyaratan bahwa para anggota bergabung atas dasar kemauannya sendiri dan atas dasar penerimaannya secara sukarela akan asas-asas Gerakan Pramuka.  Hal ini berlaku untuk anggota muda maupun anggota dewasa.
2. Non Politik
Kepramukaan bersifat non politik, dalam arti kata Gerakan Pramuka tidak terlibat dalam perjuangan kekuasaan yang menjadi wacana pokok dalam politik.  Namun demikian tidak berarti bahwa kepramukaan terpisah sama sekali dari realitas  politik dalam suatu negara, karena:
Gerakan Pramuka adalah gerakan yang bertujuan untuk mengembangkan kewarganegaraan yang bertanggungjawab.  Pendidikan kemasyarakatan ini tidak akan berhasil tanpa kesadaran atas realitas politik di Indonesia
Gerakan Pramuka adalah gerakan yang didasarkan pada beberapa prinsip, keyakinan dan nilai-nilai yang fundamental seperti Satya dan Darma Pramuka yang mempengaruhi pilihan politik dari para anggota.
3. Bebas
Kepramukaan akan sepenuhnya mencapai tujuan pendidikannya apabila jatidirinya yang khas dapat selalu dijaga.  Gerakan Pramuka harus tetap bebas, dengan berdaulat atas kewenangan pengambilan keputusan sendiri pada semua tingkat.  Yang dimaksud bebas dalam hal ini adalah setiap penawaran atau penerimaan bantuan, atau setiap bentuk kemitraan dengan organisasi lain, hanya dapat dibenarkan apabila menunjang dan menumbuhkan apa yang ingin dicapai oleh gerakan Pramuka, yaitu tujuan pendidikannya.
Pada semua jajaran Gerakan Pramuka harus diwaspadai, bahwa di dalam mengembangkan hubungan dengan pihak lain (para sponsor, mitra kerjasama, organisasi yang sejenis, pemerintah dan sebagainya) jatidiri dan kebebasan Gerakan Pramuka tidak boleh dikompromikan.
4. Sistem Nilai
Kepramukaan didasarkan pada suatu perangkat nilai, yaitu yang dituangkan ke dalam kode etik Gerakan Pramuka, atau Kode Kehormatan Pramuka yang disesuaikan dengan golongan usia dan perkembangan rohani serta jasmani anggota muda, yaitu:
Dwisatya dan Dwidarma untuk Pramuka Siaga
Trisatya dan Dasadarma untuk Pramuka Penggalang
Trisatya dan Dasadarma untuk Pramuka Penegak dan Pandega
Trisatya dan Dasadarma untuk Anggota Dewasa.
5. Persaudaraan
Hubungan antar anggota dalam Gerakan Pramuka adalah seperti layaknya hubungan antar anggota keluarga yang didasari atas cinta kasih, keakraban, dengan diselimuti rasa kejujuran, keadilan, kepantasan dan keberanian berkorban.

D. MISI KEPRAMUKAAN
Pada World Scout Conference yang bersidang di Durban, Afrika Selatan, pada bulan Juli 1999, telah diterima secara bulat oleh seluruh organisasi kepramukaan sedunia, rumusan Pernyataan Misi Kepramukaan. Pernyataan ini, didasarkan pada Konstitusi (Anggaran Dasar) WOSM, dimaksudkan untuk menegaskan kembali peran Kepramukaan sekarang ini.

Pernyataan Misi Kepramukaan adalah sebagai berikut:
Misi Kepramukaan adalah turut menyumbang pada pendidikan kaum muda, melalui suatu sistem nilai yang didasarkan pada Satya dan Darma Pramuka, guna membantu membangun dunia yang lebih baik, di mana orang-orangnya adalah pribadi yang dirinya telah berkembang sepenuhnya dan memainkan peran konstruktif di dalam masyarakat.

Hal ini dicapai dengan:
1.    menyertakan kaum muda dalam proses pendidikan nonformal, selama tahun-tahun pembentukan kepribadiannya,
2.    menggunakan metode khusus yang membuat masing-masing pribadi menjadi penggerak utama dalam pengembangan dirinya sendiri, untuk menjadi orang yang mandiri, siap membantu sesamanya, bertanggungjawab dan merasa terpanggil,
3.    membantu mereka dalam membentuk suatu sistem nilai yang didasarkan pada asas-asas spiritual, sosial dan personal, sebagaimana dinyatakan dalam Satya dan Darma Pramuka.



BAB III
KONDISI GERAKAN PRAMUKA SAAT INI

A. UMUM
Keadaan Gerakan Pramuka sekarang adalah hasil kumulatif pembinaan Gerakan Pramuka selama ini.
Sasaran Strategik Tahun 2004, sebagaimana dicanangkan dalam Renstra Gerakan Pramuka Tahun 1999-2004, belum sepenuhnya berhasil dicapai. Rencana Kerja 1999-2004 telah mengidentifikasi tiga bidang utama yang merupakan bidang kritis dalam meningkatkan kepramukaan di Indonesia dan memerlukan penanganan terpadu, yaitu:
1. pemantapan Gudep-Gudep, terutama yang berpangkalan di sekolah,
2. pengadaan pembina-pembina pramuka dalam skala besar, serta
3. pemberdayaan Kwarcab.
Untuk tiga bidang tersebut, pelaksanaannya harus menyeluruh dan berkait:
a. mulai dari tingkat Kwarnas (perumusan kebijakan umum, pengarahan, rencana dan sistem, serta perintisan dan pengusahaan fasilitas),
b. ke tingkat Kwarda (penentuan prioritas, alokasi sumberdaya, koordinasi dan pengendalian manajerial, sesuai dengan kondisi daerahnya),
c. yang ditindaklanjuti pada tingkat Kwarcab dengan dibantu oleh Kwarran (menyelenggarakan pengendalian operasional pelaksanaan  program-program itu).
Di beberapa daerah hal ini sudah mulai berjalan, namun pada umumnya belum dapat dilaksanakan dengan lancar, karena Panca Karsa Utama 1999-2004 sebagai rencana strategik, belum tersosialisasi dengan baik dan belum dihayati sepenuhnya dalam jajaran Gerakan Pramuka, sehingga belum berhasil mewujudkan suatu tindak (action plan) terpadu, yang diterapkan oleh seluruh jajaran Gerakan Pramuka.
Walaupun demikian, dapat dikatakan bahwa kondisi Gerakan Pramuka pada umumnya baik. Semua program kegiatan dan  pertemuan tingkat nasional dan daerah dapat terselenggara sesuai jadwal, seperti Jambore, Raimuna, Perkemahan Wirakarya, Lomba Tingkat, Pertisaka dan sebagainya. Demikian pula penyelenggaraan Rakernas dan Rakerda. Untuk pertama kalinya telah pula diselenggarakan Lokakarya Pemberdayaan Kwarcab, yang dihadiri seluruh 356 Kwarcab. Jumlah peserta Kwarcab dalam Rakernas juga telah ditambah.
Acara-acara internasional baik pada tingkat regional Asia-Pasifik, maupun tingkat dunia,  seperti antara lain konferensi APR (Asia Pacific Region), Jambore Dunia, konferensi WOSM (World Organization of the Scout Movement), Forum Pemuda (Youth Forum), dapat dilaksanakan dengan partisipasi penuh dan kinerja yang memuaskan.
Pramuka tidak pernah absen dalam kegiatan masyarakat dan sangat diapresiasi masyarakat. Dalam membantu menolong dan mengurangi penderitaan pada waktu terjadi kecelakaan atau musibah, individu-individu maupun satuan pramuka telah pula aktif. Demikian pula dalam hal membantu menanggulangi bencana alam dan kebakaran hutan.
Satuan-satuan Pramuka telah membuktikan selalu siap dan mampu berbakti kepada masyarakat. Kepedulian Pramuka telah dikenal sebagai tindakan konkret dan bermanfaat langsung bagi masyarakat yang dilayani. Yang senantiasa perlu dijaga adalah agar kesediaan Pramuka yang murni, penuh semangat sukarela dan gembira, tidak disalahgunakan untuk tujuan atau kepentingan politik maupun bisnis golongan tertentu.
Dapat dikatakan, bahwa Pramuka Indonesia selama ini tidak berpangku tangan, untuk selalu mengadakan kegiatan yang berguna bagi masyarakat. Penerimaan masyarakat terhadap Gerakan Pramuka cukup baik dan mendapat dukungan dari semua pihak, baik pemerintah maupun pihak swasta dan masyarakat..

B. PENYELENGGARAAN KEGIATAN

1. Gudep
Pertumbuhan yang pesat dalam jumlah anggota, dipacu oleh pembentukan Gudep-gudep berpangkalan sekolah secara serentak. Perkembangan ini tidak terimbangi dengan tersedianya pembina pramuka yang mahir dan kompeten, sehingga kegiatan.kepramukaan di Gudep tidak dapat diselenggarakan dengan baik. Akibatnya, proses pendidikan di Gugusdepan tidak berjalan sebagaimana mestinya dan tanpa disadari telah terjadi beberapa penyimpangan yang perlu dibenahi, yaitu:
a. Kepramukaan yang tergolong pendidikan luar sekolah, menjadi bagian pendidikan sekolah sebagai kegiatan ekstrakurikuler yang diatur oleh OSIS.
b. Tata hubungan yang sudah baku di pramuka, yaitu hubungan Gudep dengan Mabigus, atau Gudep dengan Mugus, tercampur rancu dengan tata hubungan sekolah-OSIS-BP3.
c. Pada umumnya Gugusdepan itu merupakan Gudep hanya untuk siswa sekolah itu, tidak terbuka untuk anak luar, dan pada umumnya merupakan Gudep yang tidak lengkap, sehingga tidak mungkin menjadi “induk” atau satuan pangkal bagi anak pramuka sepanjang ia bergiat pramuka dari awal sampai akhir.
d. Hubungan Gudep- Kwarran-Kwarcab tidak kalah pentingnya dengan hubungan Gudep yang berpangkalan di sekolah dengan Dinas Propinsi maupun Kabupaten/Kota.
e. Hubungan pramuka dengan Pembina, tetap seperti hubungan murid dengan bapak/ibu guru.
 f. Hubungan Pembina dengan Majelis Pembimbing Gudep adalah hubungan karir guru dengan kepala sekolah.
Hal-hal tersebut telah diidentifikasi dalam Renstra 1999-2004, namun penangannya secara sistematis masih belum tampak.

2. Program Kegiatan Pramuka (Youth Programme)
Program Kegiatan kaum muda (Youth Programme) adalah totalitas apa yang dilakukan dalam kepramukaan, bagaimana melakukannya (metode) dan mengapa dilakukan (tujuan pendidikan). Gerakan Pramuka harus menyuguhkan kegiatan-kegiatan yang lebih menarik dan benar-benar diminati kaum muda agar mereka dengan sukarela tetap bergabung dalam Gerakan Pramuka.
Rencana pemutakhiran dan pengembangan Program Kegiatan Peserta Didik ini belum dapat dilaksanakan sepenuhnya karena keterbatasan tenaga, waktu dan dana.

3. Ketersediaan Pembina Pramuka Mahir
Dalam mengembangkan pribadi dan watak peserta didiknya, Kepramukaan menerapkan metode yang disebut Metode Kepramukaan, yaitu pendidikan-diri secara progresif, dengan mendasarkan pada sistem nilai Satya dan Darma Pramuka. Esensi Metode Kepramukaan adalah “mengeluarkan potensi dari dalam”, yang lebih mengakar dari pada “memasukkan instruksi dari luar”. Kepramukaan lebih merupakan pendidikan orang per orang, bukan secara kelas. Ujung tombak penyelenggaraannya, adalah para pembina pramuka di Gugusdepan.
Perbandingan antara jumlah Pembina dengan peserta didik secara idealnya adalah 1:8, atau maksimum 1:10. Kalau jumlah peserta didik diasumsikan 10 juta anak, maka jumlah Pembina terlatih yang diperlukan sedikitnya adalah 1 juta orang!
Jumlah Pembina Pramuka dan Pelatih Pembina, status September 2002 adalah sebagai berikut :
- Jumlah Pembina Pramuka    :    564.826
- Jumlah Pelatih Pembina    :         8.063
Dari jumlah Pembina Pramuka yang terdaftar dan telah mengikuti KMD dan KML serta berstatus Pembina Pramuka Mahir hanya 10% yang melaksanakan fungsi, peran, tugas dan tanggung jawabnya membina Pramuka. Lagi pula, Pembina Pramuka generasi lama semakin berkurang, sedangkan regenerasi Pembina Pramuka yang baru, belum diselenggarakan pada skala yang lebih luas.
Oleh karena itu, yang sangat memprihatinkan adalah, bahwa dalam kenyataan, penerapan Metode Kepramukaan cenderung kurang diperhatikan, penerapannya masih jauh dari memuaskan. Sebagian besar Pembina Pramuka dalam Gugusdepan yang berpangkalan di sekolah, berasal dari guru yang ditugaskan menjadi Pembina. Kemungkinan besar belum KMD dan belum mengenal Metode Kepramukaan, yang sama sekali berbeda dari metode pendidikan oleh guru. Dari jumlah Pelatih Pembina Pramuka yang terdaftar dan telah mengikuti KPD dan KPL, hanya 5% yang melaksanakan fungsi melatih dan mengembangkan Pembina Pramuka.
Di dalam hal ini Gerakan Pramuka dihadapkan pada masalah penawaran dan permintaan (supply and demand) Pembina Pramuka yang sangat besar kesenjangannya.

4. Satuan Karya Pramuka (SAKA)
Satuan Karya Pramuka adalah wadah untuk pengembangan minat, pengetahuan, keterampilan dan pengalaman para Pramuka dalam berbagai bidang kejuruan terpilih.
Dalam perkembangannya, pembinaan Saka menghadapi berbagai hambatan, terutama dalam segi manajemen, seperti antara lain hubungan/koordinasi kwartir dengan Pimpinan Saka terutama di tingkat daerah dan cabang yang tampaknya kurang harmonis. Selain itu, kegiatan Satuan Karya masih belum berjalan secara teratur. Kegiatan Saka yang terlihat pada umumnya adalah hanya kegiatan bakti kepada masyarakat. Kegiatan yang bertujuan meningkatkan minat, bakat dan ketrampilan belum kelihatan diselenggarakan secara teratur.
Sebagai langkah awal, konsep kesakaan perlu telah diupayakan adanya peninjauan ulang dalam bentuk Lokakarya Saka ditinjau ulang dan  namun perlu lebih dikembangkan, sehingga mampu menampung aspirasi yang berkembang, untuk kemudian diterapkan sesuai ketentuan-ketentuan baru.

C. PENAMPILAN, PERILAKU DAN KINERJA PRAMUKA SEHARI-HARI
Hubungan Gerakan Pramuka dengan media masa telah terjalin dengan baik. Kerjasama dengan media elektronik maupun cetak berjalan cukup lancar, beberapa harian di daerah mempunyai rubrik pramuka yang dimuat secara teratur. Namun demikian, pengetahuan dan apresiasi masyarakat umum dan lembaga pemerintahan, mengenai apa sebenarnya Kepramukaan masih kurang. Kehumasan tidak cukup hanya mengandalkan media massa luar, yang lebih mengutamakan pemberitaan yang mendatangkan uang, seperti berita sensasional, menghebohkan atau kontroversial.
Peningkatan citra pramuka yang paling efektif adalah penampilan sehari-hari anggota pramuka sendiri, baik secara perorangan maupun secara berkelompok. Penampilan yang rapi, disiplin, siap menolong dan mandiri, yang merupakan manifestasi Satya dan Darma Pramuka, akan jauh lebih besar dampaknya.
Penampilan berpakaian seragam Pramuka harus rapi dan tertib. Sikap pun harus tegap, menampakkan jatidiri sebagai pramuka. Pakaian seragam pramuka dikenakan pada waktu melakukan kegiatan atau acara kepramukaan. Ketentuan-ketentuan ini sering dilupakan atau tidak diperhatikan, sehingga pemakaian seragam menjadi sembarangan. Hal ini kemungkinan karena di sebagian besar Gudep, seragam ini diperlakukan sebagai seragam sekolah untuk hari tertentu dan tidak ada petunjuk dan kontrol dari pembina.
Motto Gerakan Pramuka adalah: “Satyaku kudarmakan, darmaku kubaktikan”, yang berarti komitmen untuk mengamalkan Satya dan Darma Pramuka. Bagi pramuka siaga, secara sederhana hal ini dibekalkan sebagai komitmen untuk “berbuat kebaikan setiap hari”, sedangkan untuk saudara-saudaranya yang lebih tua, mereka harus senantiasa “ber-(siap) sedia”, untuk menolong orang, untuk memimpin, untuk memainkan peran konstruktif dalam masyarakat. Hal-hal ini harus menjadi perilaku sehari-hari seorang pramuka, harus men-”darah-daging”. Adalah kewajiban para pembina untuk mengingatkan hal ini kepada para peserta didiknya.

D. PENDATAAN KEANGGOTAAN DAN REGISTRASI GUDEP
Sistem pelaporan yang merupakan urat nadi sistem informasi, belum berjalan sebagaimana mestinya, terutama karena Kwarcab belum berfungsi dan berdaya penuh. Data mengenai Gudep yang berpangkalan sekolah masih belum dapat dikendalikan oleh Kwarcab.
Berdasarkan data dari laporan yang masuk, anggota Gerakan Pramuka status September 2002, berjumlah 16.754.539 orang, dengan perincian:
a. Pramuka Siaga putra-putri        7.893.063
b. Pramuka Penggalang putra-putri    6.862.100
c. Pramuka Penegak putra-putri        1.862.278
d. Pramuka Pandega putra-putri            137.098
Angka-angka ini tidak menggambarkan jumlah yang sebenarnya karena laporan tidak lengkap dan tidak akurat. Beberapa daerah belum atau tidak pernah dapat melaporkan jumlah pramuka yang sebenarnya. Beberapa daerah melaporkan jumlah murid sekolah untuk melaporkan jumlah pramuka siaga atau penggalangnya. Dengan demikian, angka 16 juta orang itu, hanya dapat dibaca sebagai “potensi keanggotaan” anggota muda Gerakan Pramuka.
Keputusan Ka Kwarnas No. 051 Tahun 2002 mengenai Sistem Registrasi Gudep telah dikeluarkan dan implementasi sangat terkait dengan pemberdayaan Kwarcab

E. KWARTIR CABANG
Pusat kegiatan Pramuka adalah di Gugusdepan dan Satuan Karya, dan Kwartir yang langsung bertanggungjawab atas pembinaan Gudep dan Saka adalah Kwartir Cabang. Selain itu dalam Keputusan Ka Kwarnas No. 048 Tahun 2003 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kwartir Cabang, telah ditegaskan pula bahwa di samping merupakan tumpuan kegiatan dan pelatihan, serta penggerak perkembangan Gudep dan Saka, Kwarcab adalah satuan administrasi pangkal terbawah.
Karena berbagai sebab, pada umumnya Kwartir Cabang belum dapat menyelenggarakan tugas dan tanggungjawabnya dengan baik. Kendala yang dihadapi selain dana, adalah besarnya jumlah Gugusdepan yang berada dalam lingkup wewenangnya dan tidak tersedianya tenaga staf kwartir prtofesional.
Pemberdayaan Kwartir Cabang sehingga dapat menyelenggarakan fungsi sebagaimana mestinya, merupakan kondisi mutlak apabila penyelenggaraan kepramukaan akan ditingkatkan mutunya. Penerapan Keputusan tentang Organisasi Kwarcab yang baru belum dilaksanakan.

E. PRAMUKA-NET
Pemanfaatan Internet dengan dikembangkannya Pramuka-Net sejak tahun 1997, merupakan langkah penting dan berdampak besar dalam meningkatkan pelayanan penerangan ke luar maupun ke dalam. Tetapi tahun-tahun belakangan ini tercatat kegiatan di Pramuka Net menurun.
Sistem informasi timbal balik yang menyalurkan kebijakan, ketentuan dan rencana-rencana serta pelaporan-pelaporan, ternyata masih belum berfungsi dengan baik. Sebab utama kiranya tidak semata-mata pada kekurangan teknis, melainkan mungkin lebih pada mental dan disiplin.

F. SUMBER DAYA KEUANGAN
Sesuai dengan Anggaran Dasar, pendapatan Gerakan Pramuka diperoleh dari iuran anggota, bantuan pemerintah,  sumbangan masyarakat, usaha dana, unit usaha yang dimiliki, dan sumber lain yang tidak bertentangan.
Sejak tahun 2000, bantuan Presiden untuk Gerakan Pramuka tidak ada lagi, sedangkan dana abadi yang didepositokan mengalami turunya  penurunan suku bunga dengan drastis, yang kini dikenai potongan pajak.
Kwartir daerah tidak lagi dapat hanya dapat bersandar dari bantuan pusat, melainkan harus dapat mengusahakan sendiri pada tingkat masing-masing. Seluruh jajaran Gerakan Pramuka perlu mengembangkan sumberdaya keuangannya masing-masing. Dengan naiknya pendapatan daerah sebagai akibat Undang-undang Otonomi Daerah, hal ini dapat diusahakan dengan lebih mengaktifkan Majelis Pembimbing masing-masing.

G. MAJELIS PEMBIMBING
Dalam Pokok-pokok Pengorganisasi Gerakan Pramuka telah disebutkan betapa pentingnya fungsi dan peran Majelis Pembimbing (Mabi). Kemampuan Gudep atau Kwartir untuk berkembang dan meningkatkan mutu Kepramukaan, sangat tergantung dari peran Mabi di tingkatnya. Bahkan kelangsungan hidupnya pun sangat ditentukan oleh bimbingan dan bantuan Mabi.
Di beberapa daerah, kegiatan kepramukaan terhambat dan kurang maju karena Mabinya kurang berfungsi. Kemungkinan besar hal ini disebabkan oleh karena:
anggota Mabi tidak memiliki akses yang positif ke pemerintahan dan masyarakat,
para anggota Mabi tidak memiliki pengetahuan dan apresiasi mengenai kepramukaan.
Hal ini dapat diatasi dengan pemilihan ketua dan anggota Mabi yang selektif, serta pemberian informasi mengenai fungsi dan tugasnya, dan orientasi mengenai seluk beluk organisasi dan kegiatan Kepramukaan.

I. BUKU PRAMUKA
Buku-buku kepramukaan yang berupa buku petunjuk, buku panduan dan sebagainya merupakan sarana yang mutlak diperlukan dan sangat efektif dalam pengembangan diri. Buku-buku kepramukaan yang telah diterbitkan oleh Kwarnas sejak kira-kira 20 tahun yang lalu, perlu dimutakhirkan dan dikembangkan.
Kebutuhan ini sangat dirasakan oleh daerah, baik para Pembina di lapangan maupun peserta didiknya, dan di beberapa daerah secara spontan dan sesuai dengan kemampuannya, telah diterbitkan berbagai tulisan/buku untuk mengisi kekurangan ini. Pakar-pakar penulis yang berpengalaman praktis, terutama para mantan pembina/pelatih Pramuka, banyak tersedia dan tersebar di daerah. Penerbitan buku kepramukaan ini harus segera ditangani, yaitu dengan mengorganisasikan dan memadukan upaya penulisan dan penerbitan, baik di daerah maupun di tingkat pusat.
Penyebarluasan buku-buku itu hendaknya menggunakan jaringan kedai, karena buku kepramukaan adalah komoditi utama kedai di samping pakaian seragam dan atributnya.



BAB IV
 PERKEMBANGAN LINGKUNGAN STRATEGIK

A. UMUM
Proses globalisasi dalam teknologi, pasar dan perdagangan, perjalanan dan migrasi terus berkembang dengan cepat. Dampak yang diakibatkan oleh kekuatan dan kebijakan global sangat mempengaruhi keadaan dan pengambilan keputusan pada tingkat nasional dan lokal.
Perusakan lingkungan telah mengakibatkan berbagai bencana dan krisis ekologi, seperti banjir, tanah longsor, pencemaran udara dan air, kekeringan dan kelangkaan air. Selain itu terjadi perubahan-perubahan dalam fenomena alam yang juga mengakibatkan bencana seperti tsunami, angin ribut, aktivitas gunung berapi, bertambah panasnya bumi, naiknya air laut, gelombang panas, gelombang dingin, air bah dan kekeringan.

B. TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang pesat, berpengaruh terhadap kehidupan kita. Komunikasi antar perorangan atau instansi, serta akses ke sumber-sumber data dan informasi, terbuka lebar menjangkau seluruh dunia tanpa batas. Hal ini benar-benar merupakan kemajuan teknologi yang luar biasa yang membuka peluang-peluang positif hampir tak terhingga. Namun demikian, di lain fihak hal ini juga merupakan “ancaman” yang sangat besar, karena dapat berdampak negatif pada anak muda.

C. EKSES ERA REFORMASI
Krisis multi-aspek yang melanda Indonesia, serta ekses-ekses negatif proses reformasi yang “kebablasan”, telah membawa tingkah laku sosial yang akan membawa dampak negatif pada generasi muda. Tingkah laku para politisi, penyediaan lapangan kerja dan pertumbuhan angkatan kerja yang tidak seimbang. Hal ini dibarengi dengan peningkatan kriminalitas, kekerasan dan anarki, bahkan sampai ke terorisme, yang akan membawa dampak kepada perkembangan watak anak muda.
Dengan kondisi seperti tersebut di atas, maka pengaruh “pendidikan informal” kepada generasi muda sangat besar.

D. OTONOMI DAERAH
Undang-undang mengenai otonomi daerah antara lain telah menetapkan pembagian  hasil pendapatan daerah yang lebih adil, sehingga pada umumnya kemampuan dukungan daerah untuk kepramukaan juga menjadi lebih besar.
Namun yang perlu diwaspadai adalah adanya kemungkinan timbulnya euforia kedaerahan yang berlebihan. Sehingga dapat mengancam persatuan dan kesatuan bangsa.

E. GAYA HIDUP
Pola hidup konsumtif dan mewah berlebihan, yang cenderung makin diperlihatkan akan cepat diikuti oleh anak muda yang sedang mencari nilai-nilai dalam proses pembentukan pribadinya. Informasi beraneka ragam seperti pornografi, gaya hidup kaum muda yang jauh dari kewajaran, mudah meluas dan sukar dihindari. Angka penderita HIV/AIDS dari tahun ke tahun cenderung meningkat jumlahnya. Demikian pula pemakaian narkoba semakin meluas. Mungkin ini semua merupakan gejala menghindar (escape) dari kenyataan, karena sindrom masyarakat yang mengemuka dewasa ini adalah konflik dan kekerasan, kasih sayang dan tolong-menolong makin susah ditemukan.
Hal-hal yang dikemukakan ini, bukan lagi merupakan kendala dan ancaman saja, melainkan sudah merupakan permasalahan nyata yang sudah serius proporsinya. Keadaan ini adalah masalah dan tantangan yang besar dan berat bagi dunia pendidikan.

F. SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL
Gerakan Pramuka adalah suatu gerakan pendidikan jalur nonformal yang melengkapi pendidikan jalur formal maupun informal. Melihat asas-asasnya, tujuan, prinsip dan metode yang telah mantap dan baku, Kepramukaan mampu menjadi salah satu kekuatan perubahan sosial nasional. Karena itu peranan Gerakan Pramuka perlu diakui dan dinyatakan dalam kebijakan nasional.
Dalam Undang-undang Sisdiknas yang baru, Gerakan Pramuka hanya disinggung dalam penjelasannya sebagai suatu organisasi kepemudaan.

G. KEPRAMUKAAN DUNIA DAN RENCANA 2007

Tahun 2007: 100 Tahun Kepramukaan Dunia
Pada tahun 2007 Kepramukaan Dunia akan berusia 100 tahun. Dalam rangka itu, Komite Pramuka Dunia (WSC) telah membentuk 2007 World Scout Task Force, yang dipimpin oleh Ketua WSC sendiri. Tema yang dipilih: “ 2007: One World, One Promise”
Untuk ini WSC telah menetapkan sasaran:
1. Merayakan 100 tahun KepramukaanMendemonstrasikan kebersatuan Kepramukaan Dunia
2. Mendemonstrasikan kebersatuan Kepramukaan Dunia
3. Meningkatkan dan mempromosikan mutu Kepramukaan
4. Mempromosikan perdamaian
5. Mendemonstrasikan nilai yang unik Kepramukaan
6. Memberikan pengalaman yang menyenangkan dan bermanfaat
7. Mendemonstrasikan komitmen kepada alam dan lingkungan hidup
8. Menunjukkan kepedulian kepada semua masyarakat.

“Hadiah untuk Perdamaian (Gift for Peace)”
Pada tahun 2007 diharapkan agar setiap NSO dapat memberikan suatu “Hadiah untuk Perdamaian” (Gift for Peace), yaitu proyek yang harus mulai dikerjakan NSO sejak tahun 2005. “Gift for Peace” ini bisa bermacam-macam bentuknya, berupa proyek Pramuka yang menanggapi kebutuhan anak muda yang penting, yang dikerjakan dengan pendekatan Metode Kepramukaan. Untuk itu, maka pada Konferensi Dunia 2005 di Tunisia, masing-masing NSO diharapkan melaporkan rencana proyeknya masing-masing.

“Scouts of the World”
Dalam menanggapi globalisasi, konflik bersenjata yang makin banyak dan krisis ekologi yang terjadi dunia, perlu mengintensifkan program-program Pramuka. Untuk itu World Programme Committee menyarankan untuk meluncurkan proyek sedunia yang dinamakan ”Scouts of the World”. Proyek ini menyarankan agar dalam Program Pramuka dimasukkan sejumlah kegiatan yang memberikan titik berat khusus pada:
- pendidikan pembangunan (mencakup  solidaritas internasional, interdependensi, kesehatan),
- pendidikan perdamaian (hak asasi, keadilan sosial, demokrasi, persamaan hak, komunikasi inter-budaya, toleransi, manajemen konflik, pemecahan problem),
- dan pendidikan lingkungan hidup (menemukan dan menghormati lingkungan alam, memahami interdependensi, mengetahui konsekwensi/akibat dari pilihan-pilihan perorangan atau politik).


BAB V
TANTANGAN

Penafsiran keadaan strategik mengungkapkan adanya lima tantangan yang harus ditanggapi, ya’ni:
1. Pembekalan nilai kepada anggota muda
Perkembangan lingkungan menunjukkan kecenderungan semakin meningkatnya ancaman yang berdampak negatif pada generasi muda Indonesia. Pembekalan nilai-nilai kehidupan, akhlak, watak dan disiplin yang dapat merupakan perlindungan dan ketahanan dirinya, perlu lebih diperhatikan dan ditingkatkan.
2. Memenuhi kebutuhan Pembina-Pembina Mahir
Menghadapi permasalahan berat dalam perkembangan lingkungan strategik yang akan datang, tampaklah betapa pentingnya peran dan tugas pembina-pembina pramuka. Semakin tinggi urgensinya: Penyediaan pembina pramuka yang berkualifikasi tepat, berkomitmen kuat akan tugasnya, dan berkemauan untuk mengembangkan kecakapan, ketrampilan serta sikap yang dituntut oleh fungsinya.
3. Organisasi Gerakan Pramuka yang lebih baik
Pengembangan kelembagaan, struktur organisasi dan sistem-sistem yang lebih efektif, ramping dan sederhana, yang dapat disesuaikan dengan kondisi daerah yang masing-masing sangat bervariasi dalam hal bentuk geografis wilayah, prasarana dan sarana, serta penyebaran dan kepadatan penduduknya.
4. Kemandirian Dana
Mengupayakan kemandirian dalam hal pendanaan guna mendukung program dan kegiatan Gerakan Pramuka.
5. Pramuka sebagai Perekat Bangsa
Adalah aspirasi dan harapan bangsa, bahwa dalam keadaan krisis yang dihadapi bangsa Indonesia, Pramuka Indonesia dapat menjadi perekat bangsa yang dapat turut menyelamatkan bangsa dari perpecahan dan disintegrasi Negara Kesatuan Republik Indonesia.


BAB VI
SASARAN STRATEGIK GERAKAN PRAMUKA

A. GERAKAN PRAMUKA TAHUN 2009
Berdasarkan kesimpulan analisis, dapatlah dikembangkan gambaran mengenai Gerakan Pramuka dan Kepramukaan di Indonesia pada akhir lima tahun mendatang, sebagai sasaran strategik yang dituju, yang menjadi sasaran bersama dan yang menetapkan agenda untuk kurun waktu yang akan datang bagi seluruh jajaran Gerakan Pramuka.

B. POSTUR GERAKAN PRAMUKA TAHUN

a. Umum
Gerakan Pramuka yang membuktikan benar-benar dapat menyelenggarakan Misi Kepramukaan dan diakui sebagai gerakan pendidikan nonformal utama, yang bersifat sukarela, nonpolitik, terbuka, dan menjangkau seluruh pelosok Nusantara, yang mampu menjadi salah satu kekuatan perubahan sosial dan memelihara kesatuan bangsa.

b. Khusus
Apabila semua kekurangan dan kelemahan yang diidentifikasi, berhasil diatasi, maka:
Anggota Pramuka Indonesia tampil dan berperilaku di masyarakat, sesuai jatidiri seorang pandu ibu pertiwi,
Gudep semakin mantap, melaksanakan kegiatan sesuai Program Kegiatan Peserta Didik, dengan tuntunan pembina-pembina pramuka yang mahir.
Saka semakin mantap, melaksanakan kegiatan peningkatan ketrampilan dan bakti, dalam mempersiapkan diri untuk peran konstruktif dalam masyarakat.
Anggota muda Pramuka memiliki ketahanan menghadapi ancaman yang menghadangnya, berkat pembekalan iman dan takwa,  nilai-nilai kehidupan, akhlak, watak dan disiplin.
Kwarcab telah mapan dan berdaya menjalankan fungsinya sebagai ujung tombak pembinaan Kepramukaan dan sebagai kwartir administrasi pangkal.
Organisasi ramping dan fleksibel, yang tanggap dan efektif dalam kondisi geografi, demografi, budaya, sarana dan prasarana daerah yang sangat beragam.
Sumberdaya keuangan lebih mandiri, yang mampu mendukung kegiatan-kegiatannya.
Program-program aksi Pramuka berskala nasional, yang merintis, memberi tauladan dan menyertakan rakyat dalam hidup berwawasan kebangsaan, persatuan, perdamaian, pembangunan dan lingkungan hidup.
Gerakan Pramuka sebagai bagian dari gerakan global, memberikan  kontribusi nyata dalam membangun suatu dunia yang lebih baik.


BAB VII
PROGRAM PRIORITAS DAN SASARAN

A. UMUM
Telah diidentifikasi tantangan yang harus ditanggapi Kepramukaan di Indonesia. Demikian pula, penjabaran Sasaran Strategik Tahun 2009 telah menggambarkan bagaimana seyogyanya sosok Gerakan Pramuka di masa depan dan menunjukkan arah yang harus dituju.
Dengan demikian dapatlah ditetapkan prioritas-prioritas guna mencapai sasaran strategik itu berikut sasaran-sasarannya, yang menetapkan agenda masa depan Gerakan Pramuka, serta merupakan sektor-sektor kunci yang harus ditangani oleh seluruh jajaran.
Prioritas-prioritas ini disebut “Program Prioritas” Renstra dan diuraikan ke dalam subprogram yang disebut “Sasaran” . Program Prioritas dan Sasaran-Sasarannya adalah sama untuk seluruh Gerakan Pramuka. Dalam Rencana Kerja (Renja) masing-masing Kwartir, Sasaran-Sasaran ini dijabarkan ke dalam Rencana-Rencana Kegiatan (Rengiat/action plan) yang berbeda-beda bagi Kwartir masing-masing.

B. PROGRAM PRIORITAS

1. PROGRAM PRIORITAS 1: PEMBINAAN ANGGOTA MUDA
Program ini berfokus ke penyelenggaraan Kepramukaan di Gudep, penerapan dan pengembangan Program Kegiatan Pramuka yang memberikan perhatian lebih dan tekanan secara khusus pada:
pendidikan watak, nilai dan disiplin,
pendidikan kebangsaan dan persatuan bangsa,
pendidikan perdamaian,
pendidikan lingkungan,
pendidikan pembangunan.
Dengan tetap menggunakan pendekatan Metode Kepramukaan, kegiatan disesuaikan dengan kondisi sosial, budaya dan ekonomi daerah.
a. Sasaran
1) Pemutakhiran Program Kegiatan (Youth Programme)
Pemutakhiran Program Kegiatan kaum muda (Youth Programme) yang telah dimulai sebelumnya, hendaknya dituntaskan dengan memberikan perhatian lebih pada pembekalan nilai-nilai, kebangsaan, perdamaian dan lingkungan, serta peningkatan penguasaan basic scouting (kegiatan di alam bebas), dalam kegiatan yang lebih menarik dan menantang sesuai dengan aspirasi anak muda sekarang.
2) Gudep yang mantap,
Bertolak dari penerapan Sistem Registrasi Ulang Gudep yang implisit mengevaluasi kelayakannya,. Gudep dimantapkan dengan memapankan dan mengaktifkan para pembinanya serta memfungsikan mabigusnya sesuai ketentuan dalam Petunjuk Penyelenggaraan Gudep.
3) Kegiatan Saka yang lebih teratur dan terarah,
Penegasan kembali asas-asas eksistensi dan pembinaannya, penyelenggaraan kegiatan yang lebih terarah dan seimbang antara pengembangan minat, ketrampilan dan bakti masyarakat, dengan dukungan sumber daya.
4) Kegiatan Temu Giat,
Penyelenggaraan pertemuan kegiatan seperti Jambore, PW, Raimuna, dengan tema-tema yang lebih diarahkan kepada pendidikan nilai, kebangsaan, perdamaian, lingkungan, dsb dan dengan jadwal waktu yang diperhitungkan secara cermat
5) Kegiatan Kepramukaan berskala nasional
Program kegiatan kepramukaan berskala nasional dirintis, untuk memberi tauladan dan menyertakan rakyat dalam hidup berwawasan kebangsaan, persatuan, perdamaian, pembangunan dan lingkungan hidup.
6) Buku Kepramukaan
Buku-buku kegiatan & permainan, dan buku-buku teknik & ketrampilan pramuka.
7) Kewirausahaan
Adanya upaya peningkatan pendidikan dan latihan ketrampilan dalam rangka pembinaan kewirausahaan, agar mampu hidup mandiri di tengah masyarakat.

2. PROGRAM PRIORITAS 2: ANGGOTA DEWASA
Program ini berfokus pada peningkatan kualitas Anggota Dewasa, terutama Pembina Pramuka dan Pelatih Pembina. Para anggota dewasa dibekali kemampuan untuk melaksanakan tugasnya sebaik mungkin. Selain itu, mereka yang tersebar langsung di lapangan, adalah “agents of change” dan “agents of development”.Merekalah “roda gendeng” utama yang menggugah dan menggerakkan semangat, komitmen dan motivasi untuk  mencapai Sasaran Strategik Gerakan Pramuka.
a. Sasaran
1) Penerapan Kebijakan Anggota Dewasa (Adult in Scouting)
Pengkajian dan adaptasi Kebijakan Anggota Dewasa untuk penerapannya di Gerakan Pramuka, terutama mengenai:
a) konsep tenaga eksekutif profesional (professional scouters)
b) konsep kesukarelaan anggota dewasa
2) Pelatihan Pembina Pramuka, Pelatih dan Pamong Saka, pada skala besar,
Penyusunan rencana induk pengadaan pembina pelatih dan pelaksanaannya. yang selain menyertakan seluruh potensi diklat, juga mencakup pengembangan modul-modul diklat untuk pembelajaran senidiri, yang dapat mempersingkat waktu pelatihan di Lemdika-lemdika dan menggandakan calon pembina pramuka.
3) Penataran/orientasi Anggota Mabi dan Staf profesional, pada skala besar,
Penyelenggaraan penataran, penyampaian informasi dan penyediaan petunjuk tentang partisipasi dan peran Mabi, Andalan, Pinsaka dan Staf Kwartir
4) Penyelenggaraan fora diskusi,
Forum informasi perkembangan kepramukaan, berbagi pengalaman, pemecahan persoalan seperti Karang Pamitran, Gelang Ajar dan lain sebagainya. Kegiatan/pertemuan diupayakan secara berjenjang pada tingkat kwartir
5) Buku Kepramukaan untuk Anggota Dewasa
Meningkatkan ketersediaan buku pedoman/panduan untuk anggota dewasa. Penyebaran buku melalui kedai, sedangkan materi dapat disebarluaskan melalui penyajian dalam berbagai bentuk media (leaflet, CD, tampilan Website, e-mail dsb).

3. PROGRAM PRIORITAS 3: KEHUMASAN DAN KOMUNIKASI
Program ini berfokus ke peningkatan citra Kepramukaan Indonesia dan pengakuan perannya sebagai salah satu sistem pendidikan nonformal yang memberikan kontribusinya dalam melengkapi pendidikan anak muda Indonesia, dengan mempersiapkan mereka menjadi pribadi dewasa yang telah berkembang diri sepenuhnya dan memainkan peran konstruktif di dalam masyarakat.
a. Sasaran
1) Penampilan, tingkah laku dan kinerja Pramuka sehari-hari
Penertiban pemakaian seragam berikut atributnya, sikap dan tingkah laku pramuka, pemapanan budaya “setiap hari berbuat kebaikan” serta kesiapsediaan Pramuka untuk menolong.
2) Aksi Pramuka Peduli,
Peningkatan kegiatan Bakti Pramuka, baik pada tingkat lokal maupun pada skala nasional (berkait dengan Sasaran-5 Program-1).
3) Koordinasi dengan Pihak Terkait
Peningkatan penyampaian informasi dan dialog dengan tokoh-tokoh legislatif, eksekutif dan stake holders lainnya.
4) Komunikasi Internal dan Eksternal
Pemantapan komunikasi dan informasi internal maupun eksternal yang mampu memenuhi kebutuhan dan aspirasi jajaran dan anggota Gerakan Pramuka, antara lain  melalui:
Optimalisasi jalur komunikasi informasi yang ada (internet, faksimili, telepon).
a) Pengelolaan website Kwartir secara lebih profesional
b) Penyusunan petunjuk dan pelatihan teknologi informasi dan komunikasi yang mampu dilaksanakan di jajaran kwartir.
5) Representasi di Forum Internasional.
Peningkatan penyampaian informasi mengenai Gerakan Pramuka kepada WOSM, baik kantor di Geneva maupun APRO di Manila, serta penyiapan proyek internasional “Gift for Peace”, yang sudah harus dilaporkan pada Konferensi Dunia 2005 di Tunisia serta pelaksanaan proyek tersebut untuk tahun 2007.

4. PROGRAM PRIORITAS 4: ADMINISTRASI DAN MANAJEMEN
Program ini berfokus ke kelembagaan, organisasi, sistem dan manajemen, yang dibenahi berdasarkan pedoman memulihkan kembali ke asas-asas (back to basics), tetapi modern sesuai tuntutan zaman, yaitu ramping, fleksibel dan lebih peka akan kebutuhan masyarakat, serta mampu menanggapinya secara cepat dan efektif.
a. Sasaran
1) Penyempurnaan Organisasi Kwartir dan Gugusdepan
Pengembangan struktur organisasi dan sistem-sistem yang lebih efektif, ramping dan sederhana, yang dapat disesuaikan dengan kondisi daerah yang masing-masing.
Menuntaskan rencana pemberdayaan Kwarcab, sebagai kwartir, penting dalam penertiban gugus depan di setiap pangkalan, yang sangat menentukan baik tidaknya penyelenggaraan kepramukaan.
2) Kelembagaan di Gerakan Pramuka 
Pembenahan kelembagaan dan perangkat organisasi dalam Gerakan Pramuka termasuk koordinasi antar kelembagaan.
3) Sistem dan Manajemen
Peningkatan manajemen Kwartir/satuan agar mampu melakukan pengelolaan sesuai perkembangan teknologi, antara lain melalui:
a) Pemapanan sistem data dan laporan yang andal
b) Pemutahkiran data (bank data) dari gudep sampai Kwarnas dengan akurasi data yang dapat dipertanggungjawabkan.
4) Perlindungan Hak Milik Intelektual
Memastikan perlindungan atas hak cipta dan hak merek milik Gerakan Pramuka
5) Manajemen Resiko
Perlunya pengembangan dan sosialisasi manajemen resiko di gerakan Pramuka

5. PROGRAM PRIORITAS 5: SUMBERDAYA KEUANGAN
Program ini berfokus ke upaya mencapai kemandirian yang lebih besar dalam pendanaan untuk mendukung kegiatan Gerakan Pramuka.
a. Sasaran
1) Program Pengembangan Sumberdaya Keuangan
Dalam rangka mengupayakan peningkatan kemandirian dalam pendanaan, perlu dikaji dan disusun rencana pengembangan sumberdaya keuangan masing-masing kwartir.
2) Iuran Anggota Dan Satuan
Penegasan kembali dan penerapan sistem iuran anggota secara menyeluruh dan penentuan iuran satuan dalam rangka penerapan Sistem Registrasi Gudep.
3) Asuransi
Penyusunan dan pengembangan sistem asuransi yang tepat bagi anggota Gerakan Pramuka dengan melibatkan perusahaan asuransi yang telah memiliki cabang di seluruh Indonesia.
4) Pemberdayaan Aset
Pendayagunaan asset yang dimiliki dengan pengelolaan secara profesional, agar lebih efektif dan dapat meningkatkan penghasilan Kwartir, seperti Kedai, Buper dan sebagainya.
5) Usaha dana
Penyelenggaraan kegiatan usaha dana, dalam rangka pengumpulan sumbangan untuk mendukung kegiatan operasional pramuka terutama kegiatan bakti kemanusiaan dan kegiatan skala nasional, meliputi:
a) Kegiatan usaha dana kemanusiaan
b) Kegiatan usaha dana penanggulangan musibah dan bencana
c) Kegiatan usaha dana dalam rangka mendukung kegiatan besar (Jamnas, Raimuna,PW)


BAB VIII
PENUTUP

Rencana Strategik Gerakan Pramuka 2004-2009 ini adalah acuan pokok yang menetapkan arah bagi semua penetapan sasaran dan kegiatan dalam Rencana Kerja (RENJA) dan Program Kerja (PROGJA) untuk masa bakti 2004-2009 bagi seluruh jajaran Gerakan Pramuka.
Dengan demikian diharapkan dapat diperoleh upaya pusat dan daerah yang terpadu dalam menanggapi tantangan, meningkatkan penyelenggaraan kepramukaan, mengatasi kekurangan, kelemahan dan mendayagunakan peluang untuk mencapai sasaran strategik Gerakan Pramuka tahun 2009.
Renstra harus dimasyarakatkan secara luas ke semua jajaran kwartir dan satuan Pramuka. Para eksekutif baik andalan maupun profesional di Gerakan Pramuka, harus mengetahui, memahami dan menghayatinya, serta memiliki komitmen untuk menyukseskannya.


Ditetapkan di Pontianak
Pada tanggal  18 Desember 2003.

Presidium Munas Gerakan Pramuka 2003,




Sundoro Syamsuri
Ketua





Dr. H. Noer Bahry Noer, MSc.    Amos Asmuruf
Anggota    Anggota





Drs. H. Didi Edia Kartadinata     Riyadi Santoso, SPd.
Anggota     Anggota


 
Yahoo Messenger
Send Me IM!
Google Plus
Add Me To Your Circle!
Twitter
Follow Me!
Facebook
Add My Facebook
Original Template By Belajar SEO Blogspot - Himajiesized By Dayz Hidayat